Merasa Miskin Padahal Tabungan Cukup? Waspada Kamu Terkena Money Dysmorphia

  • Muhammad Arsyad
  • Banyak orang mulai takut kehabisan uang

  • Padahal kebanyakan dari mereka justru punya tabungan yang cukup

  • Ini bukan fenomena yang aneh. Kenapa?

  • Ada sindrom yang namanya money dysmorphia

  • Seperti apa money dysmorphia itu?

  • Ada beberapa tanda seseorang terjangkit sindrom ini


Suatu ketika ada seorang anak muda di Thread mengaku selalu khawatir uangnya tidak cukup. Padahal dia punya tabungan yang lebih dari cukup. Kamu pernah merasakan hal yang sama dengan anak muda tersebut?

Itulah yang dinamakan sindrom money dysmorphia. Seperti apa sindrom yang mulai menjangkiti banyak orang ini? Apa saja tanda-tandanya? Yuk kita bahas lebih dalam lagi.

Pengertian Money Dysmorphia

Jadi, apa itu money dysmorphia? Singkatnya, money dysmorphia itu semacam kondisi ketika seseorang punya asumsi keliru terkait kondisi keuangan mereka. Atau, ketika kamu berpikir tidak realistis terhadap kondisi keuangan kamu, itu juga bisa disebut money dysmorphia.

Money dysmorphia ini sebetulnya kalau dicermati mirip dengan body dysmorphia yang berkaitan dengan citra tubuh. Jadi dalam konteks body dysmorphia orang bisa cemas akan kondisi fisiknya, nah kalau dalam money dysmorphia yang dicemaskan adalah kondisi keuangan.

Seseorang yang mengidap money dysmorphia dia akan selalu merasa uangnya tidak cukup, cemas, tidak aman, dan akan merasa bahwa dia selalu kekurangan uang. Padahal itu tidak sesuai dengan kondisi realitanya, yang mana secara objektif, sebetulnya kondisi keuangannya sedang baik-baik saja. Simpelnya, terjerat utang pun tidak.

Lalu, kenapa seseorang bisa mengidap money dysmorphia?

Baca juga: 8 Tanda Tubuh Kurang Bergerak yang Sering Dianggap Sepele

Penyebab Money Dysmorphia

Media sosial boleh dibilang menjadi penyebab terbesar orang mengidap money dysmorphia. Kenapa begitu? Ketika membuka media sosial, kita akan melihat gaya hidup orang lain. Tak jarang gaya hidup yang kita lihat di media sosial penuh kemewahan dan banyak yang pamer harta kekayaan.

Melihat unggahan orang yang baru beli mobil misalnya, kita akan langsung berpikir bahwa uang kita kurang. Padahal yang terjadi mungkin memang uang kita kurang untuk membeli Range Rover, tapi bukan berarti kita kekurangan uang yang sampai membuat kita nelangsa.


Dari media sosial pula tekanan sosial muncul. Ada semacam tuntutan sukses atau mapan secara finansial di usia muda. Kita sering melihat kan, banyak orang-orang yang masih 20-an tahun, atau bahkan belasan tahun tapi sudah punya kekayaan yang tak bisa dimiliki sebagian besar orang seusia itu.


Kemudian ada trauma masa lalu. Bisa jadi ini penyebab yang tidak ada kaitannya sama media sosial. Trauma masa lalu itu seperti pernah merasakan hidup serba berkekurangan. Nah, ketika sudah berkecukupan, orang itu akan takut uangnya habis dan berada di titik yang sama di masa lalu.


Pola didikan dan lingkungan juga bisa menjadi penyebab munculnya sindrom money dysmorphia ini. Jika kita sedari kecil sudah mendengar bahwa uang yang kita punya sekarang tak cukup, atau terus-terusan mengonsumsi konten yang memperlihatkan bahwa di usia segini harus punya tabungan segini, juga bisa memicu money dysmorphia.


Setelah mengetahui pengertian dan bagaimana seseorang bisa mengidap money dysmorphia, kira-kira apa yang perlu dilakukan supaya mencegah hal itu?


Baca juga: Dikira Cuma Doomscrolling, Gen Z Justru Jadi Generasi Paling Rajin Baca Buku


Cara Mencegah Money Dysmorphia


Sebetulnya untuk mencegah money dysmorphia cukup mudah. Kamu perlu mengenali terlebih dahulu pola pikir kamu sendiri. Caranya, bila suatu ketika merasa cemas akan keuangan, catat apa yang bikin kamu cemas.


Apa karena membandingkan diri dengan orang lain? Atau karena dikejar-kejar cewek kamu agar segera melamarnya?


Apa pun itu catat saja. Dengan mencatat kamu bisa mengenali pola pikir kamu. Selain itu, kamu juga akan lebih bisa mendeteksi apabila gejala money dysmorphia itu muncul kembali. Lantas, apakah caranya cuma itu? Tentu tidak.


Kamu juga bisa memulai dengan fokus ke tujuan finansialmu. Buat rencana finansial dalam jangka pendek, menengah, atau panjang. Lalu fokus ke sana. Dengan fokus ke tujuan finansial kamu sendiri, kamu tidak akan terpengaruh dengan finansial orang lain. Money dysmorphia pun bisa dihindari.

Dengan fokus ke tujuan finansialmu sendiri, kamu juga akan terhindar dari membandingkan milikmu dengan orang lain. Bukankah capek terus berkaca pada cermin orang lain?

Oh ya, untuk menentukan tujuan finansial, kamu juga perlu belajar soal keuangan. Perluas literasi finansial kamu dengan membaca buku atau mendengarkan siniar atau podcast. Biasanya kamu akan mendapatkan rekomendasi untuk membangun kebiasaan finansial positif dari sana.

Baca juga: Gaya Tooth Gems Viral Ala Naykilla, Kembalikan Tren Y2K!

Apa yang Bisa Dilakukan Kalau Kena Money Dysmorphia?

Itu tadi cara mencegah, lalu bagaimana jika kamu terkena money dysmorphia? Sederhana, tenangkan dirimu. Kamu bisa mengalihkan perhatian ke hal lain, misalnya menonton film atau serial kesukaanmu. Atau, kamu juga bisa membaca novel yang menyenangkan.

Jika memang money dysmorphia yang kamu alami sudah mengganggu aktivitas sehari-sehari, coba deh datang ke psikolog atau ahli keuangan. Mintalah bantuan ke pakarnya. Mereka akan memberikan saran secara profesional sesuai kebutuhan kamu.

Well, itulah tadi soal money dysmorphia. Kelihatan sepele, tapi banyak orang, sadar ataupun tidak, telah mengalaminya. Bagaimana dengan kamu?