PT Pertamina Patra Niaga resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter per 10 Juni 2026. Begitu pula Pertamax Green 95 (RON 95), yang naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan yang mengejutkan banyak pihak ini ternyata menyimpan cerita panjang yang jauh melampaui sekadar angka di papan harga SPBU. VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan dalam acara Sarasehan Energi yang digelar di Universitas IPB, Bogor, mengungkapkan bahwa harga BBM RON 92 harusnya lebih tinggi lagi, pasalnya di pasar internasional saja sudah sekitar Rp20 ribu-21 ribu per liter.
"RON 92 itu kalau di market itu harganya sudah Rp20 ribu-Rp21 ribu-an. Di Thailand, RON 92 atau RON 91 mencapai Rp23 ribuan jika dikonversi ke rupiah," terang dia.
Guncangan dari Timur Tengah
Jalan menuju harga Rp21 ribu itu dimulai dari sebuah peristiwa yang mengguncang dunia pada penghujung Februari 2026, yakni meletusnya konflik bersenjata antara Israel dan Iran pada 28 Februari 2026. Perang yang melibatkan dua kekuatan besar di kawasan Timur Tengah itu langsung membakar harga minyak mentah dunia.
Dampaknya segera terasa dalam formula penetapan harga BBM Indonesia. Berdasarkan paparan Sigit, batas atas harga Pertamax yang dihitung menggunakan Harga Indeks Pasar (HIP) dan kurs rupiah, sesuai formula harga BBM jenis Bahan Bakar Umum (JBU) melompat dramatis.
Dari level Rp12.397 per liter pada Maret 2026, batas atas itu meroket ke Rp18.745 per liter pada April 2026. Belum berhenti, pada Mei 2026 angkanya menyentuh Rp20.157 per liter, dan melonjak lagi menjadi Rp20.942 per liter pada Juni 2026.
Baca juga: BBM Naik, Apa Efeknya ke Ekonomi Indonesia?
Artinya, secara formula, Pertamina sebenarnya sudah berhak menaikkan harga Pertamax sejak April lalu. Namun perusahaan memilih diam dan menanggung selisihnya sendiri.
"Kami masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300 per liter. Pertamax Green juga seperti itu, masih bisa kami tahan kemarin. Meskipun akhirnya, dua produk itu per hari ini, kami naikkan," kata Sigit.
Keputusan menahan harga bukan tanpa konsekuensi. Selisih antara biaya pengadaan dan harga jual yang terus menganga membuat Pertamina menghadapi tekanan pada volume impor BBM. Ketika pendapatan dari penjualan Pertamax tak lagi mencukupi biaya pengadaannya, perusahaan terpaksa mengurangi volume impor, dan itu berarti ancaman bagi ketersediaan stok BBM nasional.
"Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun," terang dia.
Apalagi Pertamina harus terus memastikan ketersediaan barang di pasar tetap ada. Tanpa penyesuaian harga, rantai pasokan energi nasional terancam terganggu, sebuah risiko yang jauh lebih besar dari sekadar lonjakan harga di SPBU.
Saifan Zaking