Prediksi Messi dan Ronaldo di Piala Dunia 2026, Siapa Lebih Berpeluang ke Final?

  • Saifan Zaking

Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ini adalah momen terakhir dua titan sepak bola dunia, yakni Cristiano Ronaldo (41 tahun) dan Lionel Messi (39 tahun) yang berdiri di panggung terbesar, membawa mimpi negara mereka, dan mengejar satu gelar yang belum pernah satu pun dari mereka raih bersama-sama di final Piala Dunia.

Setelah fase grup berakhir, bagan fase gugur resmi terbentuk. Dan takdir seolah sedang menulis drama besar dengan Portugal dan Argentina berada di jalur bagan yang berbeda, membuka peluang nyata pertemuan Ronaldo vs Messi di final New York pada 19 Juli 2026. Namun sebelum bermimpi soal final itu, mari bedah satu per satu rintangan yang harus dilewati masing-masing legenda, karena jalan mereka menuju puncak tidaklah setara.

Messi dan Argentina Berjalan di “Taman Bunga”

Di sinilah keberuntungan berpihak pada Argentina. Sebagai juara Grup J, La Albiceleste masuk ke jalur paruh bawah bagan yang disepakati banyak analis sebagai sisi yang lebih bersahabat dibandingkan jalur Portugal. Untuk babak 32 Besar, Argentina akan berhadapan dengan Cape Verde, tim yang tampil mengejutkan di fase grup berkat penampilan gemilang Vozinha mengawal gawang. 

Cape Verde merupakan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026 setelah lolos ke fase gugur tanpa terkalahkan. Kekuatan mereka bukan terletak pada nama besar, melainkan organisasi pertahanan yang sangat disiplin, kolektivitas tinggi, serta kemampuan memanfaatkan serangan balik. Mereka bahkan mampu menahan Spanyol dan Uruguay, membuktikan bahwa tim ini tidak mudah ditembus.

Bagi Argentina, tantangan terbesar adalah membongkar pertahanan rapat dan menghindari lengah saat kehilangan bola. Jika Messi dan rekan-rekan mampu mencetak gol lebih dulu, peluang lolos terbuka lebar. Namun apabila laga berjalan buntu, Cape Verde berpotensi memaksa pertandingan hingga extra time atau bahkan adu penalti.

Jika Argentina melaju, lawan berikutnya adalah salah satu dari dua tim yang jarang menjadi favorit besar, baik Australia maupun Mesir. Australia mengandalkan permainan fisik, pressing tinggi, dan kekuatan bola mati, sedangkan Mesir masih bertumpu pada kualitas individu Mohamed Salah yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam satu momen. Kedua tim memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama mengandalkan disiplin organisasi permainan.

Secara kualitas skuad, Argentina tetap lebih unggul. Namun jika menghadapi Mesir, perhatian khusus harus diberikan kepada Salah, sementara melawan Australia mereka perlu mengantisipasi duel udara dan situasi set-piece.

Baca juga: Kenapa Presiden FIFA Selalu Muncul di Banyak Laga Piala Dunia?

8Perempat final diprediksi menjadi ujian sesungguhnya bagi Argentina. Dari empat kandidat lawan, Kolombia merupakan ancaman terbesar berkat keseimbangan permainan, kecepatan Luis Diaz, serta pengalaman James Rodriguez. Swiss juga terkenal sulit dikalahkan dan kerap tampil efektif dalam laga knockout. Sementara itu, Aljazair dan Ghana tetap berpotensi memberi kejutan, tetapi secara materi pemain masih berada di bawah Argentina. Jika tampil sesuai kualitasnya, La Albiceleste tetap difavoritkan melaju ke semifinal.

Di sinilah Argentina mungkin menghadapi ujian terberat sebelum final. Brasil menjadi lawan yang paling diwaspadai karena memiliki kualitas individu, kedalaman skuad, dan rivalitas historis yang selalu menghadirkan pertandingan berintensitas tinggi. Jepang juga layak diperhitungkan berkat pressing agresif dan organisasi permainan yang semakin matang, sedangkan Norwegia mengandalkan efektivitas lini depan.

Jika duel Argentina versus Brasil benar-benar terjadi, laga tersebut berpotensi menjadi salah satu pertandingan terbesar di Piala Dunia 2026. Siapa pun lawannya, semifinal dipastikan menjadi tantangan terberat Argentina menuju final. Jika semua berjalan sesuai ekspektasi, Argentina berpeluang mencapai final dengan relatif lebih sedikit "hadangan raksasa" dibandingkan Portugal.

Ronaldo dan Portugal jadi Pejuang Jalur “Neraka”

Menjadi runner-up Grup K menempatkan Portugal di sisi kiri bagan yang oleh banyak media disebut sebagai "jalur neraka", satu sisi bagan yang dipenuhi raksasa Eropa. Awal perjalanan Portugal akan disambut oleh Kroasia, tim yang terkenal dengan mentalitas baja dan pengalaman di laga-laga besar. Meski diperkuat banyak pemain senior, mereka masih memiliki lini tengah berkualitas yang dipimpin Luka Modric serta pertahanan yang disiplin. 

Mental mereka di laga knockout juga sudah terbukti dalam beberapa edisi Piala Dunia terakhir. Portugal memang unggul secara kualitas individu, tetapi duel ini diperkirakan berlangsung ketat. Jika Bruno Fernandes gagal menguasai lini tengah atau Ronaldo kesulitan mendapat ruang, Kroasia memiliki peluang besar membawa pertandingan hingga extra time atau adu penalti.

Jika menang, inilah batu karang pertama Portugal yang sesungguhnya, Spanyol. Salah satu favorit juara asuhan Luis de la Fuente, yang mengandalkan kombinasi Lamine Yamal, Nico Williams, Rodri, dan Pedri yang membuat permainan mereka cepat, agresif, sekaligus sulit dihentikan.

Portugal harus mampu mengimbangi dominasi lini tengah Spanyol dan memaksimalkan setiap peluang yang dimiliki. Secara keseluruhan, Spanyol lebih diunggulkan, sehingga laga ini menjadi rintangan terbesar Portugal sebelum memasuki delapan besar.

Seandainya Portugal berhasil melewati Kroasia dan Spanyol, tantangan berikutnya tidak kalah berat. Di kuarter ini terdapat Prancis yang menang telak 4-1 atas Norwegia di fase grup, atau Jerman yang juga tampil meyakinkan. Melewati tiga laga melawan tim-tim kelas dunia secara beruntun adalah tantangan yang luar biasa berat.

Prancis memiliki lini serang eksplosif yang dipimpin Kylian Mbappe, sedangkan Jerman tampil solid lewat pressing tinggi dan permainan kolektif ala Julian Nagelsmann. Siapa pun lawannya, Portugal harus menghadapi tim dengan kualitas setara finalis Piala Dunia. Lolos dari fase ini akan menjadi bukti bahwa mereka mampu melewati salah satu jalur tersulit di turnamen.

Bahkan jika Portugal berhasil menyingkirkan semua rintangan sebelumnya, Portugal akan menghadapi lawan dari paruh bagan lain seperti Belgia, Amerika Serikat, atau tim kejutan lainnya. Belgia masih berbahaya berkat pengalaman pemain senior, sementara Amerika Serikat memiliki keuntungan sebagai tuan rumah dengan dukungan penuh suporter.

Meski secara nama relatif lebih ringan dibanding lawan-lawan sebelumnya, semifinal tetap tidak akan mudah. Namun tantangan terbesar Portugal sejatinya sudah berada di tiga babak awal fase gugur.

Baca juga: Daftar Pelatih yang Mundur Selama Piala Dunia 2026, Siapa Saja?

Siapa yang Lebih Berpeluang ke Final?

Dari perspektif bagan semata, Argentina jelas lebih diuntungkan. Messi datang ke babak gugur dalam kondisi terbaik, dengan tubuh yang segar (karena sengaja diistirahatkan di laga ketiga), enam gol di tabungan, dan seluruh tim bermain seperti mesin yang diatur dengan baik oleh Scaloni.

Lebih penting lagi, pada usia 39 tahun, manajemen beban fisik Messi menjadi kunci. Scaloni sudah menunjukkan kecerdasannya dengan memainkan Messi sebagai pengganti di laga terakhir, strategi yang menjaga sang kapten tetap lapar dan segar memasuki fase gugur.

Sementara Ronaldo menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks. Pada usia 41 tahun, ia masih mampu mencetak gol dan menorehkan rekor, tetapi pertanyaan tentang konsistensi performa selama 90 menit melawan tim-tim sekelas Spanyol dan Prancis adalah pertanyaan serius.

Tetapi inilah yang membuat Ronaldo mendapat banyak dukungan, karena akan membuat kemenangan Portugal terasa lebih agung. Jika Ronaldo berhasil membawa Portugal melewati Kroasia, Spanyol, dan Prancis untuk mencapai final, itu bukan sekadar prestasi sepak bola. Itu adalah bukti ketangguhan Portugal.

Sementara Messi berjalan di jalan yang lebih terbuka, tetapi tidak berarti tanpa risiko. Satu slip melawan Cape Verde, jika satu penalti yang gagal ini akan menjadi satu malam buruk, dan semua yang dilalui Argentina runtuh seketika.