Terminal Manggarai sudah dinonaktifkan sebagai terminal selama bertahun-tahun dan tidak terlihat aktivitas pengangkutan atau penurunan penumpang seperti saat dulu. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi penyebab terminal ini sudah tidak beroperasi kembali.
Salah satu faktornya adalah karena Terminal Manggarai adalah terminal tipe B yang melayani angkutan kota antarkota dalam provinsi (AKDP), seperti model angkutan Jakarta (Kopaja) dan Metromini, angkutan koperasi.
Walaupun begitu, terminal yang dulunya difungsikan sebagai titik keberangkatan utama Kopaja dan Metromini tersebut sempat direvitalisasi pada 2013 dan diresmikan kembali sekitar tahun 2024 agar lebih layak dan nyaman bagi para penumpang.
Setelah 4 tahun beroperasi, izin dari Metromini dan Kopaja harus dihapuskan karena suatu hal.
“Jadi sejak tahun 2018 izin mereka dihentikan dan di sini hanya berfungsi sebagai halte Transjakarta saja,” ungkap Kepala Satuan Pelayanan(Kasatpel) Terminal Bus Manggarai, Sertinsi, ketika ditemui oleh pihak Kompas.com di Terminal Manggarai pada Selasa, 23 Juni 2026.
Seiring berjalannya waktu, PT Transjakarta sudah tidak berada di bawah naungan Dinas Perhubungan(Dishub) Jakarta dan membuat kembali halte sendiri yang lokasinya terletak persis di samping terminal.
Karena hal tersebut, Terminal Manggarai semakin kehilangan fungsinya. Hingga saat ini, tempat pemberhentian bus tersebut menjadi sepi dan tidak terlihat aktivitas apa pun, layaknya mati suri.
Akan Difungsikan Sebagai TOD
Setelah lama tidak beroperasi dan berfungsi sebagaimana semestinya, kini masa depan Terminal Manggarai mulai menemukan titik terangnya. Terminal yang terletak di kawanan strategis tersebut rencananya akan dialihfungsikan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD). “Wacana ke arah sana memang sudah ada, meskipun kamu belum tahu secara detail rangkaian proyeknya seperti apa,” ucap Sertinsi.
Zulkifli selaku Kepala Unit Pengelola(UP) Terminal Angkutan Jalan Dishub Jakarta membenarkan pernyataan tersebut bahwa Terminal Manggarai akan difungsikan sebagai TOD dan simpul integrasi antarmoda.
“Ke depannya, sejalan dengan penetapan Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentra yang melayani KRL, KA Bandara, dan KA Jarak Jauh, serta rencana pembangunan infrastruktur stasiun LRT Manggarai yang berdekatan, Terminal Manggarai akan diintegrasikan secara terpadu,” ucapnya saat dihubungi oleh pihak Kompas.com, Selasa.
Menurutnya, Terminal Manggarai berpotensi untuk diproyeksikan sebagai titik perpindahan (interchange node) yang menghubungkan layanan first mile dan last mile, seperti Transjakarta dan Mikrotrans, dengan moda transportasi berbasis rel, seperti LRT Jakarta, KRL Commuter Line, dan KA Bandara.
Meski begitu, belum ada kepastian kapan pembangunan kawasan TOD tersebut akan dimulai, ungkap Zulkifli.
Direncanakan Dalam Waktu Dekat
Sambil menunggu terealisasinya rencana pembangunan TOD, Dinas Perhubungan (Dishub) Jakarta sudah memasukkan Terminal Manggarai dalam Rencana Kebutuhan Pemeliharaan dan Optimalisasi Tahun 2026.
Program tersebut meliputi penyesuaian geometrik terminal dan rekayasa sirkulasi kendaraan. Penyesuaian ini dilakukan agar armada Transjakarta bisa melakukan manuver dengan aman di dalam area Terminal Manggarai.
Pengaktifan kembali dan optimalisasi fungsi Terminal Manggarai sebagai tempat menaikkan dan menurunkan penumpang pun diharapkan dapat segera terwujud melalui upaya tersebut.
Saat dilakukan revitalisasi pada 2013, terminal tersebut memang dirancang hanya untuk melayani bus dengan ukuran sedang seperti Kopaja dan Metromini.
Karena bentuk bus dari Transjakarta yang lebih besar dan lebih panjang, mereka memilih untuk membuat halte baru di luar terminal. Perlu dilakukannya penyesuaian infrastruktur agar Transjakarta bisa masuk ke dalam.
Source: Republika
Berpotensi Menjadi TOD
Kawasan Manggarai dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi wilayah TOD, serupa dengan kawasan Dukuh Atas di Jakarta Pusat, sebagaimana disampaikan oleh pengamat transportasi Djoko Setijowarno.
“Dalam skala yang lebih besar, kawasan ini berpotensi untuk pengembangan TOD. Rencana pengembangan TOD di kawasan Manggarai sebenarnya sudah ada sejak zaman Presiden Soeharto, namun terus tertunda,” tutur Djoko ketika dihubungi oleh tim Kompas.com.
Namun untuk menjadikan Manggarai sebagai kawasan TOD bukanlah sebuah perkara yang mudah. Perlu dilakukannya pembebasan lahan yang luas di sekitar daerah tersebut.
Djoko mengungkapkan bahwa lahan sekitar 25 hektar di wilayah Manggarai milik PT KAI bisa dibangun sebagai hunian vertikal yang mendukung kawasan TOD. Selain Antamoda yang saling terhubung, proses pembayarannya juga disarankan untuk saling terintegrasi.
Jadi gimana nih Oppal gengs! Apakah kamu mendukung rencana menjadikan Terminal Manggarai sebagai wilayah TOD? Yang kita ketahui bahwa aktivitas di Manggarai sendiri sangat sibuk, pastinya akan sangat terbantu dan semakin terintegrasi wilayah tersebut.
Muhammad Ichsan