Siapa Saja 5 Jurnalis yang Hilang Saat Meliput Anak Krakatau? Berikut Profilnya

  • Muhammad Ichsan

Kabar tidak menggembirakan menyelimuti dunia jurnalistik Indonesia. Terdapat lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak ketika melakukan liputan mengenai aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Banten, sejak Senin (7/9/2026). Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap seluruh rombongan.

Source: Kompas Regional

Kronologi Hilangnya Rombongan Jurnalis

Peristiwa ini dimulai ketika rombongan jurnalis berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk mengambil foto dan video aktivitas erupsi yang mulai meningkat sejak 5 September 2026. Salah satu anggota dari rombongan tersebut sempat mengirimkan kabar mengenai lokasi terakhir kepada rekannya sekitar pukul 14.42 WIB, sebelum akhirnya kontak terputus total pada pukul 15.04 WIB. 


Selain lima jurnalis, terdapat tiga awak kapal yang juga hilang kontak, diantaranya Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), serta Heriyanto sebagai pemandu, sehingga total delapan orang kini masih dalam pencarian.


Berikut ini profil singkat dari kelima jurnalis yang hilang kontak:


1. M. Bagus Khoirunnas (Kantor Berita Antara)


Bagus merupakan seorang pewarta foto dari Antara Banten yang berusia 27 tahun dan dikenal selalu berdedikasi tinggi di bidang fotografi jurnalistik. "Ia terjun ke fotografer karena memang hobi dan memang dunianya," kata sang ayah, Mansyur Suryana. Salah satu foto erupsi Anak Krakatau karya Bagus bahkan sempat diunggah langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di akun media sosial resminya. Sebelumnya, sang istri sempat melarang Bagus untuk berangkat karena memiliki firasat buruk, namun akhirnya Bagus tetap pergi usai diajak oleh rekan-rekan sesama Pewarta Foto Indonesia (PFI), dengan janji tidak menginap dan pulang malam hari.


2. Ari Basuki (Merdeka.com)


Ari Basuki merupakan pewarta foto dari media daring Merdeka.com. Adik Ari, Lintang, sempat menceritakan kondisi kesehatan kakaknya sebelum berangkat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut


3. Yudistiro Pranoto (iNews)


Yudhis, sapaan akrabnya, merupakan pewarta foto dari iNews.id yang juga turut tergabung dalam rombongan liputan bersama keempat rekan jurnalis lainnya.


4. Firman Daus (Anadolu Agency)

Daus bertugas sebagai jurnalis untuk kantor berita internasional Anadolu Agency asal Turki, yang turut mengirimkan tim untuk meliput langsung fenomena erupsi Anak Krakatau ini.

5. Donal Husni (Jurnalis Lepas/Freelance)

Donal merupakan satu-satunya anggota rombongan yang berstatus jurnalis lepas atau freelance, tanpa terikat pada media tertentu, namun tetap turut serta dalam misi peliputan bersejarah ini.

Baca juga: Fakta di Balik Julukan Indonesia “Ring of Fire”, Ternyata Punya 127 Gunung Api Aktif


Upaya Pencarian Masih Berlangsung


Operasi pencarian awal yang dilakukan Kantor SAR Banten pada Selasa (8/9) sempat mengerahkan KN SAR Tetuka dan RIB-02 dalam radius 3,2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau, namun belum membuahkan hasil. Pencarian sempat dihentikan sementara karena cuaca buruk dan gelombang tinggi yang dapat membahayakan tim SAR.


Memasuki hari kedua pencarian yang dilakukan pada Rabu (9/9), tim SAR gabungan memperluas area pencarian hingga mencakup wilayah seluas 68,3 mil laut, dibagi menjadi empat sektor Search and Rescue Unit (SRU), dengan mengerahkan KN SAR Tatuka serta Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten. Pencarian ini juga turut menyisir sejumlah perairan hingga ke wilayah Pulau Krakatau, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang, namun hingga saat ini belum ditemukan tanda-tanda keberadaan rombongan maupun speedboat yang mereka tumpangi. 


Mendapatkan Sorotan Media Internasional


Kasus hilangnya lima jurnalis ini turut menjadi perhatian media asing. The Straits Times dan Channel News Asia (CNA) sama-sama melaporkan hilangnya rombongan jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan bencana alam ini, sementara media Malaysia The Star turut menyoroti perluasan area pencarian yang dilakukan tim SAR Indonesia.


Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, menegaskan bahwa operasi SAR akan terus dilakukan secara masif hingga seluruh korban ditemukan. Sementara itu, keluarga serta rekan-rekan kerja para jurnalis kini bersiaga di Posko SAR di Carita, Pandeglang, sembari terus memantau perkembangan pencarian dan berharap kabar baik segera datang bagi kelima jurnalis yang menjalankan tugas peliputan penuh risiko demi menyampaikan informasi kepada publik.