Waspada Bahaya Tren Lari Sambil Makan Cepat! Ini Dampaknya bagi Kesehatan

  • Muhammad Ichsan

Sekarang ini muncul tren baru yang tersebar di media sosial, yaitu makan super cepat sambil bergerak, bahkan berlari, dengan berlomba-lomba bersama teman untuk menghabiskan makanan tercepat. Walaupun kelihatan menghibur dan challenging, tren ini memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Para ahli memberikan peringatan bahwa memakan makanan dengan cara terburu-buru sambil melakukan aktivitas fisik dapat menimbulkan risiko yang cukup serius bagi tubuh.


Source: https://www.tiktok.com/discover/makan-lari-challenge 


Proses Pencernaan Dimulai dari Mulut, Bukan Lambung

Secara medis, proses pencernaan dimulai dari makanan yang dikunyah di dalam mulut, bukan baru bekerja setelah makanan sampai di lambung. Ketika seseorang makan terlalu cepat, sejumlah mekanisme biologis penting yang berada di dalam tubuh akan terganggu. Hormon leptin, yang memiliki tugas untuk memberikan sinyal rasa kenyang ke otak, memerlukan waktu paling tidak sekitar 20 menit untuk bekerja secara optimal. Jika makan dilakukan terburu-buru, seseorang bisa saja sudah menghabiskan porsi besar kalori sebelum otak sempat menyadari bahwa perut sebenarnya sudah penuh.

Risiko Gangguan Pencernaan hingga Tersedak

Makan sambil melakukan aktivitas atau berlari akan meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Potongan makanan yang berukuran besar akan masuk ke lambung dan belum melalui proses pencernaan di mulut secara sempurna. Hal tersebut akan mengakibatkan lambung mencernanya dalam waktu yang lebih lama dan memerlukan energi yang lebih besar, sehingga saluran pencernaan dipaksa bekerja lebih keras dan berpotensi meningkatkan produksi gas dalam sistem pencernaan. Akibat yang dirasakan: perut penuh dengan gas, merasa kembung, hingga menimbulkan rasa begah yang tidak nyaman.


Selain itu, makan sambil berlari juga membuat proses menelan jadi tidak terkendali. Dokter spesialis anak, Endang D. Lestari, pernah mengingatkan soal ini dalam konteks anak-anak, "Makan sambil berlari bisa membuat anak tiba-tiba tersedak karena proses menelan yang terganggu. Anak menjadi batuk-batuk hingga muntah." Walaupun konteks yang diberikan soal anak-anak, pada prinsipnya risiko tersedak akibat makan makanan sambil bergerak juga berlaku kepada orang dewasa yang mengikuti tren serupa.


Bahaya Melakukan Kombinasi Aktivitas Fisik Secara Intens


Tren seperti ini semakin berisiko karena adanya unsur lari atau aktivitas fisik yang dilakukan secara intens diiringi dengan aktivitas makan. Olahraga dengan intensitas tinggi seperti lari cepat membutuhkan energi dan aliran darah yang lebih besar menuju otot, sementara proses pencernaan juga membutuhkan aliran darah yang cukup ke area lambung dan usus. Ketika keduanya terjadi secara bersamaan, tubuh akan dipaksa “berebut: sumber daya dari dua proses yang berbeda sekaligus, dan berpotensi memicu gangguan pencernaan yang lebih parah, mulai dari mual, kram perut, hingga rasa nyeri di ulu hati.


Baca juga: Fakta-Fakta Tepung Singkong yang di Uji BRIN untuk Padamkan Karhutla, Apakah Efektif?


Dampak Terhadap Kesehatan Jangka Panjang


Jika kegiatan seperti ini dijadikan kebiasaan, makan cepat sambil beraktivitas fisik, dampaknya bukan cuma soal ketidaknyamanan sesaat. Kebiasaan seperti ini, jika dilakukan secara berulang-ulang, akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan pencernaan dan metabolisme dalam jangka panjang, termasuk meningkatkan risiko kembung, rasa lapar berulang dalam waktu singkat, gangguan asam lambung, hingga potensi obesitas akibat pola makan yang tidak terkendali.


Cara Makan yang Lebih Sehat dan Direkomendasikan


Agar terhindar dari berbagai risiko yang disebutkan di atas, ada baiknya untuk menerapkan prinsip mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran. Beberapa langkah praktis yang bisa kamu lakukan di antaranya mengunyah makanan secara perlahan, meletakkan sendok atau alat makan setiap kali mengunyah, serta memastikan bahwa makanan yang kamu kunyah sudah benar-benar halus sebelum ditelan. 


Durasi makan yang ideal disarankan minimal 20 hingga 30 menit di setiap sesi makan, dilakukan pada situasi yang tenang tanpa memainkan gadget maupun melakukan aktivitas fisik lainnya. Lingkungan makan yang nyaman dan kondusif juga berperan besar dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat, karena membantu seseorang untuk lebih fokus dan sadar terhadap sinyal lapar maupun kenyang dari tubuhnya sendiri.


Apabila ingin berolahraga setelah makan, sebaiknya berikan jeda waktu yang cukup dan pilih intensitas ringan seperti berjalan santai, bukan lari cepat atau olahraga dengan intensitas latihan yang tinggi. Dengan begitu, tubuh punya cukup waktu untuk mencerna makanan dengan optimal tanpa harus terbebani oleh dua proses berat secara bersamaan.


Pada akhirnya, tren di media sosial hanya untuk keseruan yang bisa dicoba, tetapi kesehatan tubuh menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikorbankan hanya demi konten atau tantangan sesaat.


Catatan: artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti konsultasi medis. Jika mengalami keluhan pencernaan yang berulang atau serius, sebaiknya konsultasikan langsung dengan dokter