Sampah plastik masih menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan biota laut. Bahkan, mikroplastik kini ditemukan hampir di mana-mana, dari sungai, danau, lautan, hingga makanan serta air minum manusia. Di tengah situasi tersebut, para peneliti di Inggris menghadirkan inovasi unik berupa robot ikan pemakan plastik untuk membantu membersihkan perairan.
Robot ini dikembangkan di University of Surrey, Inggris sebagai bagian dari ajang Natural Robots Contest yang digelar pada musim panas 2022. Menariknya, robot tersebut tidak hanya mampu menangkap plastik di air, tetapi juga memanfaatkan limbah itu sebagai sumber energi. Robot ikan ini digadang-gadang menjadi awal era baru teknologi ramah lingkungan yang bisa bekerja sambil memulihkan alam. Seperti apa inspirasi dan bagaimana cara kerjanya? Berikut penjelasannya OPPAL gengs!
1. Berawal dari Ide Mahasiswi
Desain robot ikan ini berasal dari mahasiswi Kimia bernama Eleanor Mackintosh. Gagasannya yang diberi nama “Gillbert” berhasil memikat panel juri internasional karena dinilai realistis dan berpotensi menjadi solusi pencemaran plastik di perairan. Setelah memenangkan kompetisi, tim insinyur University of Surrey kemudian mewujudkan konsep tersebut menjadi prototipe nyata. Hasilnya adalah robot sepanjang sekitar 30 sentimeter atau seukuran ikan salmon, dengan ekor yang dapat bergerak dan berenang menyerupai ikan sungguhan.
2. Cara kerja robot “Gillbert”
Saat berenang di laut, sungai, atau danau, robot ikan ini membuka mulutnya untuk menyedot air. Di bagian dalam tubuhnya terdapat jaring halus yang mampu menangkap partikel mikroplastik berukuran hingga dua milimeter, sementara air yang lebih bersih dikeluarkan kembali melalui celah menyerupai insang.
Keunggulan utama robot ini terletak pada penggunaan microbial fuel cell, yaitu sistem yang mencerna partikel plastik lalu mengubahnya menjadi energi. Artinya, semakin banyak plastik yang dikumpulkan, semakin besar pula tenaga yang dimiliki robot untuk terus berenang. Konsep ini membuatnya menjadi salah satu robot mandiri pertama yang dapat “mengisi energi sendiri” sambil bekerja.
3. Dilengkapi sensor dan bisa menyala dalam keadaan gelap
Selain membersihkan air, robot ikan ini juga dibekali sensor kecil untuk memantau kualitas air dan tingkat cahaya di sekitarnya. Data tersebut dapat membantu peneliti memahami kondisi lingkungan secara lebih akurat.
Robot ini bahkan mampu menyala dalam gelap. Fitur tersebut berguna agar para peneliti lebih mudah melacak pergerakan robot saat diuji di perairan dengan pencahayaan minim.
4. Desain bisa dicetak dengan printer 3D dan tersedia gratis
Hal menarik lainnya, desain robot ikan ini bersifat open source dan tersedia gratis untuk diunduh. Siapa pun yang memiliki printer 3D dapat mencetak dan merakit versi mereka sendiri.
Melalui pendekatan terbuka tersebut, pengembang berharap semakin banyak komunitas, sekolah, hingga peneliti di berbagai negara ikut berpartisipasi dalam upaya membersihkan perairan dari plastik.
5. Robot “Gillbert” jadi harapan baru atasi krisis mikroplastik
Potensi teknologi ini dinilai sangat besar. Mikroplastik diketahui dapat merusak sel, mengganggu hormon, dan membawa zat beracun ke rantai makanan. Namun hingga kini, lokasi sebagian besar sampah plastik yang dibuang ke perairan masih sulit dilacak.
Dr Robert Siddall, dosen University of Surrey sekaligus pencetus kompetisi ini pada 2022, mengatakan manusia belum mengetahui ke mana sebagian besar sampah plastik yang dibuang ke saluran air akhirnya bermuara. Menurutnya, robot ikan ini beserta generasi penerusnya diharapkan menjadi langkah awal untuk membantu menemukan sekaligus mengendalikan persoalan polusi plastik tersebut.
Siddall juga menilai robot ikan ini nantinya akan bergabung dengan berbagai robot penangkal polusi lain yang sedang dikembangkan kampusnya demi menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan. Ke depan, versi lanjutan robot ini ditargetkan dapat berenang secara otonom, menangkap partikel lebih kecil, dan menjelajah area yang lebih luas.
Kalau robot ikan saja bisa rajin membersihkan laut sambil isi tenaga sendiri, masa kita masih buang sampah sembarangan, OPPAL Gengs? Yuk, saatnya ikut jaga bumi dari hal kecil. Masa depan lingkungan bukan cuma urusan ilmuwan, tapi tugas untuk kita semua!
Reyvan