Survival Show Gen Z Sebagai WNI: Udah Kena Mental, Ditambah Krisis Finansial

  • Bayu Dewantara

Bagi Gen Z di Indonesia, hidup di era sekarang rasanya bukan lagi soal menjalani rutinitas, tapi lebih mirip ikut survival show dengan tingkat kesulitan maksimal. Kita nggak cuma dituntut buat kreatif dan produktif, tapi juga harus punya mental baja buat navigasi di tengah gempuran isu kesehatan mental dan ekonomi yang nggak menentu.

Kalau ditarik ke belakang, track record generasi ini memang sudah diuji sejak awal. Mulai dari bayang-bayang Krisis Moneter 98, jadi Alumni Kiamat 2012, berjuang bertahan hidup pas Pandemi Covid19, sampai sekarang tiap hari disuguhi berita soal potensi Perang Dunia 3.

Pilih Mode “Hard Crazy” Saat Lahir

Gen z, sebagai generasi yang belum menginjak usia 30 tahun, namun sudah berhasil melewati banyak krisis sekaligus. Kalau hidup ini diibaratkan sebuah game, kayaknya banyak dari kita yang nggak sengaja pilih difficulty paling mentok pas awal main.

Lahir pas Krisis Moneter 1998, kecil ngadepin masalah keuangan 2008, remaja ngelawan Covid-19, udah dewasa kenyang liat berita MBG dan perang dunia ke-3, jadi curiga salah pilih mode saat mau login. Kombinasi ini bikin Gen Z punya cara pandang yang beda sama dunia. Kita tumbuh besar saat stabilitas itu barang langka, makanya nggak heran kalau rencana masa depan sering kali harus adu sikut sama realita yang makin absurd.

Habis Manis, Ditimpa Krisis

Menjalani nasib menjadi seorang Gen Z, terlebih sebagai WNI sepertinya tidak semanis omon-omon motivator. Ekspektasi buat sukses di usia muda sering kali bertabrakan dengan kondisi lapangan yang makin kompetitif.

Tapi sialnya, perasaan pesimistis Gen Z yang hidup dan berkembang di bumi seperti ini selalu dicap oleh generasi yang lebih tua sebagai “keluhan generasi manja”. Padahal, tantangan yang kita hadapi itu beda bentuk. Generasi sebelumnya mungkin fokus ke ketahanan fisik, sementara Gen Z harus bertarung sama tekanan psikis di dunia digital yang nggak pernah tidur.

Padahal…

Mentalitas Gen Z Sudah Teruji

Kondisi semacam ini membuat generasi yang lahir antara 1997-2012 ini punya mentalitas yang bertahan jauh lebih lama dari krisis itu sendiri. Kita mungkin kelihatan rapuh di luar, tapi sebenarnya kita lagi proses adaptasi dalam tekanan yang konstan.

Cemas takut miskin, OVT duluan, ketidakpastian dalam finansial, atau keyakinan tentang masa depan yang selalu bisa runtuh tanpa peringatan menjadi pemikiran tekanan yang sudah dirasakan secara bersama. Ketakutan ini bukan tanpa alasan, karena standar hidup dan kompetisi global sekarang memang lagi tinggi-tingginya.

Coping Mechanism Ala Gen Z

Buat jaga kewarasan di tengah kondisi yang lagi chaos gini, Gen Z punya cara unik buat recharge energi. Gen Z nggak banyak cerita, tapi tiba-tiba:

  • Naik gunung sendirian

  • Malemnya nangis, paginya tetep kerja

  • Deactivate account

“Cabut sebentar” jadi salah satu cara Gen Z buat coping. Sesuatu yang bikin mereka ngerasa punya waktu tenang di tengah kondisi kayak gini. Menghilang sejenak dari radar media sosial atau sekadar staycation tipis-tipis jadi katup penyelamat sebelum balik lagi ke realita.

Yang Belum Dirasain Gen Z

Meskipun sudah melewati banyak krisis dalam kehidupannya, namun Gen Z belum mencoba beberapa hal ini:

  • Nambahin hutang negara

  • Dipuji sama gen yang lain

  • Keracunan MBG

  • Menang debat di grup WA keluarga

  • Beli rumah pakai gaji sendiri tanpa sistem cicilan seumur hidup

  • Lulus kerja tanpa harus punya pengalaman 5 tahun di usia 22

Daftar ini mungkin terdengar bercanda, tapi ini adalah suara hati kolektif yang berharap masa depan bisa lebih ramah. Bertahan di tengah gempuran krisis sejauh ini adalah bukti kalau Gen Z itu kuat dengan caranya sendiri