Musik sering kali dibilang sebagai bahasa universal, dan hal ini dibuktikan secara nyata lewat gelaran konser bertajuk Symphony of Friendship. Bertempat di Balai Resital Kertanegara, Jakarta, pada Selasa malam, acara ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan sebuah oase di tengah situasi global yang sedang tidak menentu. Kedutaan Besar Swiss di Indonesia sengaja menginisiasi kolaborasi ini untuk mempererat ikatan emosional antara kedua negara melalui harmoni nada yang indah.
Rayakan 75 Tahun Persahabatan Lewat Harmoni Musik
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Olivier Zehnder, menyampaikan bahwa momen ini menjadi bagian penting dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Swiss dan Indonesia. Alih-alih hanya membahas angka-angka ekonomi atau kebijakan politik yang kaku, Dubes Zehnder lebih memilih untuk menonjolkan hubungan antarmasyarakat atau people-to-people contact. Menurutnya, musik memiliki kekuatan magis untuk menyatukan berbagai bangsa tanpa terhalang batasan bahasa, sehingga sangat tepat digunakan untuk merayakan persahabatan panjang yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Selama hampir empat tahun bertugas di Indonesia, Dubes Zehnder mengaku terus jatuh cinta dengan keberagaman budaya di tanah air. Secara khusus, ia mengungkapkan ketertarikannya pada musik dari kawasan Indonesia bagian Timur, seperti Nusa Tenggara dan Ambon. Ia menilai jenis musik jazz asal Maluku sangat enak didengar dan memiliki karakter yang kuat. Meskipun ia jujur mengakui belum sempat menjelajahi seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke, semangatnya untuk terus menggali kekayaan musik khas Indonesia tidak pernah padam.
Sentuhan Musik Timur Indonesia yang Bikin Dubes Swiss Jatuh Cinta
Kabar baiknya, kolaborasi ini tidak hanya berhenti di Jakarta. Dubes Zehnder merasa sangat bangga karena Jakarta Concert Orchestra dan Batavia Madrigal Singers juga akan membawa simfoni persahabatan ini terbang langsung ke Swiss. Ia sangat optimis bahwa telinga para penikmat musik di negaranya akan menyambut hangat karya-karya dari Indonesia. Bagi Dubes Zehnder, lagu-lagu Indonesia punya keunikan tersendiri yang sangat pas ketika dipadukan dengan aransemen alat musik klasik, menciptakan sebuah warna baru yang segar bagi industri musik global.
Membawa Lagu Daerah ke Panggung Dunia Lewat Aransemen Klasik
Dalam kesempatan yang sama, Punjul Setya Nugraha selaku Direktur Eropa II Kementerian Luar Negeri RI turut memberikan apresiasi tinggi. Ia melihat bahwa penampilan musik Indonesia dalam format orkestra menjadi potret baru bagi komunitas internasional. Hal ini memperlihatkan bahwa Indonesia tidak hanya kaya secara tradisional, tetapi juga mampu memadukan seni modern dan kontemporer dengan kaidah budaya lokal yang tetap terjaga identitasnya. Diplomasi budaya semacam inilah yang diharapkan mampu memperkuat fondasi berbagai bentuk hubungan bilateral antara Indonesia dan Swiss ke depannya.
Di bawah arahan konduktor kenamaan Avip Priatna, resital ini membawakan deretan lagu daerah yang sudah sangat akrab di telinga kita, namun dengan balutan orkestral yang mewah. Mulai dari hentakan semangat Sik Sik Sibatumanikam dari Sumatera Utara hingga syahdunya Bubuy Bulan dari Jawa Barat. Tidak ketinggalan alunan Ayo Mama yang mewakili kecintaan sang Dubes pada musik Timur, serta deretan lagu lain seperti Paris Barantai dan Benggong. Semua lagu tersebut menjadi representasi konkret bahwa 75 tahun hubungan diplomatik antara Swiss dan Indonesia adalah sebuah perjalanan yang harmonis dan penuh warna. Melalui Symphony of Friendship, kita diajak melihat bahwa di balik perbedaan geografis, selalu ada melodi yang mampu menyatukan hati setiap orang.
Bayu Dewantara