Asap Kebakaran Hutan di Kalimantan Berdampak Sampai ke Malaysia, dan Titiknya Masih Terus Meluas

  • Muhammad Ichsan

Bencana kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan semakin hari semakin mengkhawatirkan, seiring dengan musim kemarau panjang yang juga belum usai. Kabut asap yang muncul hampir menyelimuti seluruh wilayah Pulau Borneo, bahkan berdampak pada negara-negara tetangga, salah satunya Malaysia.


Karena hal ini, banyak sekolah diliburkan dan aktivitas penerbangan terganggu dan harus berhenti beroperasi sementara. Setidaknya ada enam sekolah di daerah Sarawak yang menghentikan aktivitas pembelajaran mereka karena tingkat polusi udara yang tinggi di kawasan tersebut. 


Ribuat Titik Kebakaran Terpantau oleh Satelit


Berdasarkan data pantauan yang diambil dari satelit NOAA-20 sampai hari Kamis, 20 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.487 hotspot terdeteksi di seluruh wilayah kepulauan Kalimantan, dengan konsentrasi tertinggi berada di daerah Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul juga Kalimantan Barat dengan 560 titik. 


Source photo: CNBC


Selain itu, untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terdapat 74 titik kebakaran, sedangkan Kalimantan Utara hanya 3 titik. Skala kerusakan yang diakibatkan oleh fenomena ini sangatlah besar. Melihat data BNPB hingga 9 Agustus menunjukkan, lebih dari 32 ribu hektare lahan telah terbakar hanya di tiga provinsi meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah Kalimantan Barat sendiri mencatat luasan terbesar sekitar 28.680 hektare.


Asap Hitam Pekat yang Terus Meluas Lumpuhkan Aktivitas Warga


Dampak yang paling dirasakan oleh warga sekitar bersumber dari kabut asap yang membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas. Di Daerah Palangka Raya, BPBD daerah setempat mencatat terdapat 298 kejadian karhutla selama periode 1 Juni hingga 19 Agustus 2026. Kemunculan asap hitam yang sangat pekat ini menjadikan suasana siang hari layaknya malam.


Salah satu warga terdampak bernama Wahyu mengeluhkan banyaknya warga di sekitar yang sudah terkena penyakit ISPA akibat paparan asap berkepanjangan.

“Siang sekarang gelap penuh asap, jarak pandangan terbatas, sudah banyak yang kena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut),” ucap Wahyu pada Kamis, 20 Agustus 2026.


Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Selatan. Kualitas udara di Banjarbaru bahkan sempat menyentuh kategori Berbahaya pada hari Rabu, 19 Agustus 2029, di pagi hari, dengan angka konsentrasi PM2.5 mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik, jauh dari ambang batas 250,5 mikrogram per meter kubik untuk kategori tersebut. Bahkan, indeks kualitas udara di Palangka Raya menyentuh angka 487 dengan status kategori bahaya, dengan jarak pandang hanya sekitar 1,4 kilometer.


Baca juga: Update Kebakaran Hari Ini: 5 Wilayah dengan Karhutla Terparah di Indonesia


Gangguan Aktivitas Penerbangan Hingga ke Malaysia


Dampak dari Karhutla ini tidak berhenti pada masalah kesehatan saja. Kabut asap juga turut mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, dengan 12 penerbangan mengalami gangguan pada 19 Agustus, terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan delapan keberangkatan.


Yang lebih parahnya lagi, dampaknya terasa hingga melintasi batas negara. Persebaran kabut kebakaran hutan di Kalimantan menyebar hingga ke wilayah Malaysia dan membuat aktivitas sekolah di daerah Sarawak harus dihentikan sementara untuk melakukan aktivitas tatap muka. Indeks pencemaran udara di wilayah Tebedu melampaui angka 200 pada 12 Agustus lalu.


Upaya Pemerintah Dalam Menangani Peristiwa Ini


Dalam menghadapi ekskalasi ini, pemerintah pusat terus memperkuat operasi penanganan di lapangan. Operasi terpadu pengendalian Karhutla meliputi daerah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan dengan melibatkan Kementerian Kehutanan, BNPB, BMKG, pemerintah daerah, TNI, Polrim Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api.


Salah satu upaya yang dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang terus diupayakan demi membantu meningkatkan peluang hujan, salah satunya di Kalimantan Barat yang telah melaksanakan 9 sorti penerbangan penyemaian awan pada periode 13-17 Agustus 2026. Sayangnya, cuaca belum sepenuhnya mendukung upaya pemadaman. 


BMKG memprediksi potensi pertumbuhan awan hujan masih sangat minim di sebagian besar wilayah Indonesia dalam sepuluh hari ke depan. Di sebagian Kalimantan, cuaca kering diperkirakan akan terus berlanjut.


Faktor Penyebab: Bukan Hanya Persoalan Kemarau


Para peneliti lingkungan menilai bahwa persoalan ini bukan hanya disebabkan oleh faktor cuaca semata. Kebakaran hutan dan lahan di daerah Kalimantan bukan merupakan persoalan baru. Insiden seperti ini sudah terjadi berulang kali dan menjadi masalah tahunan sejak 1996. Musim kemarau hanya memperparah kondisi vegetasi yang memang sudah rentan terbakar, terutama lahan gambut yang bisa menyebabkan penyebaran api hingga ke lapisan bawah tanah.


Di balik luasnya area yang terbakar, praktik membuka lahan dengan cara dibakar masih ditemukan karena dianggap lebih murah dan cepat dibandingkan dengan menggunakan alat berat, meski aparat kepolisian telah menetapkan sejumlah tersangka atas kasus-kasus karhutla tersebut.


Dengan cuaca kering yang diprediksi masih berlanjut, masyarakat di wilayah Kalimantan diimbau untuk terus waspada, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta segera melaporkan titik api baru kepada BPBD setempat agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.