Eskalator Skybridge Bojonggede Dikirimi Bunga: Aksi Protes Simbolik Pengguna KRL yang Kesal

  • Muhammad Ichsan

Terjadi fenomena unik di eskalator Skybridge Stasiun Bojonggede, Kabupaten Bogor. Terlihat banyak karangan bunga yang diletakkan di sekitarnya, namun bunga-bunga ini bukan untuk menghiasi lingkungan stasiun agar terlihat lebih indah. Hal ini terjadi pada hari Senin (26/10/2026), ketika sejumlah pengguna KRL meletakkan buket dan karangan bunga di depan eskalator yang mati. Ini merupakan aksi simbolik dan menjadi cara warga untuk menyampaikan keresahan mereka atas fasilitas eskalator yang tidak kunjung diperbaiki oleh pihak terkait.


Source: kupasmerdeka

Alasan Kenapa Warga Mengirimkan Bunga

Aksi ini diinisiasi oleh pengguna yang tergabung dalam komunitas #WargaBersuara. Fika, salah satu perwakilan dari komunitas tersebut, menyampaikan bahwa warga sudah resah karena bersuara sendiri dan tidak mendapatkan respons. “Sama sekali tidak ada feedback dari petugas terkait.” Setelah unggahannya viral, semakin banyak warga yang ikut mengirimkan bunga dan mereka berencana untuk mengirimkannya lagi. Secara simbolis, karangan bunga biasanya identik dengan ucapan duka, dan dalam aksi ini melambangkan “matinya” fasilitas publik.


Pesan-pesan yang terdapat di bunga isinya bernada sindiran. Salah satunya bertuliskan “Eskalator bukan hiasan doang”. Pesan lainnya menuntut agar segera dilakukan perbaikan tanpa perlu menunggu viral, dan menyindir bahwa naik-turun tangga bukan workout harian. Radar Bogor mencatat tiga buket bunga terpasang hingga Senin siang, masing-masing dengan secarik surat berisi pesan.


Isi dari Tuntutan Warga 

Menurut Gerakan Warga Bersuara, buket itu adalah pesan terbuka kepada Pemkab Bogor, khususnya Dinas Perhubungan, agar segera merespons keluhan. Warga meminta kepastian perbaikan dan keterbukaan informasi soal penanganannya.


Baca juga: "Stop the Wedding!" Viral di TikTok, Apa Cerita di Balik Lagu yang Ramai Dipakai Ini?


Respons Pihak Berwenang

Melalui akun X @commuterline pada 12 Oktober, pihak KAI mengirimkan pesan permintaan maaf kepada masyarakat dan menegaskan bahwa perbaikan eskalator di area skybridge menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Pengelolaannya berada di bawah Pemkab Bogor, dan KAI mengaku sudah berkoordinasi. Kepala Dishub Kabupaten Bogor, Bayu Ramawanto, menyatakan, “Diharapkan awal Desember sudah beres.” Menurutnya, eskalator sengaja tidak difungsikan karena dikhawatirkan mengganggu keselamatan pengguna.


Dalam berita lain yang didapatkan dari CNBC Indonesia, kerusakan ini disebut sudah berulang sejak awal 2026. Perkiraan biaya perbaikan untuk tiga unit sekitar Rp800 juta, mengutip Radar Bogor. Opini itu juga menekankan agar Pemkab membuka rincian anggaran dan target waktu, serta tidak menjadikan viralitas sebagai alarm pemeliharaan.


Pernahkah Ada Kejadian Serupa di Indonesia?

Untuk kejadian yang serupa, tidak ditemukan aksi yang persis sama dengan kejadian eskalator skybridge ini. Melakukan aksi dengan karangan bunga untuk memprotes fasilitas publik yang tak kunjung diperbaiki. Mungkin, salah satu fenomena yang berhubungan dengan karangan bunga pernah terjadi, tetapi bukan aksi protes melainkan dukungan. Yang paling dikenal adalah banjir karangan bunga untuk Ahok dan Djarot di Balai Kota DKI pada April 2017. Jumlahnya mencapai lebih dari 5.000 buah dan menjadi bentuk dukungan setelah kekalahan Pilkada.


Namun, isi pesan yang terdapat di dalamnya menyampaikan pesan-pesan positif dan memberikan simpati kepada pasangan calon gubernur tersebut, dan tidak bernada kritik seperti yang terjadi pada kejadian protes kepada Pemkot Bogor dan Dinas Perhubungan. Kedua aksi ini menunjukkan bahwa bunga bisa menjadi alat. Sebagai penyampaian pesan publik untuk sebuah kejadian. Kini publik menunggu apakah janji perbaikan awal Desember benar-benar terwujud, dan apakah protes bunga ini akan menjadi pengingat agar fasilitas publik dirawat sebelum rusak.