Oppal Gengs, perjalanan Paul Atreides di semesta Dune bukan sekadar kisah tentang seorang pemuda yang ditakdirkan menjadi pemimpin besar. Di balik lanskap gurun Arrakis dan pertempuran kolosal, trilogi garapan Denis Villeneuve perlahan memperlihatkan sisi gelap kekuasaan, ramalan, dan fanatisme agama.
Lewat Dune: Part One (2021) dan Dune: Part Two (2024), penonton mengikuti perubahan Paul dari pewaris House Atreides menjadi pemimpin Fremen yang dikenal sebagai Muad'Dib. Perjalanan itu berlanjut dalam Dune: Part Three, yang diadaptasi dari novel Dune Messiah karya Frank Herbert.
Menjelang babak penutupnya, ada sejumlah perubahan cerita, visual, dan karakter yang menarik untuk diperhatikan. Yuk, simak evolusinya!
1. Evolusi Cerita: Dari Korban Politik Menjadi Kaisar
(Sumber: IMDb)
Dalam Dune: Part One, cerita berfokus pada pengenalan Arrakis, perebutan kendali atas rempah-rempah atau spice, serta kehancuran House Atreides akibat intrik politik. Paul yang diperankan Timothée Chalamet masih menjadi pewaris muda yang berusaha memahami masa depannya. Setelah keluarganya diserang, ia dan ibunya, Lady Jessica, harus bertahan hidup di gurun.
Dune: Part Two menggeser fokus ke kehidupan Paul bersama Fremen. Ia mempelajari cara hidup masyarakat gurun, menjalin hubungan dengan Chani yang diperankan Zendaya, dan semakin dekat dengan ramalan tentang sosok penyelamat mereka. Namun, ketika Paul menerima peran sebagai pemimpin, kemenangan yang diraihnya juga membuka jalan menuju perang besar.
Sementara itu, Dune: Part Three membawa cerita ke fase yang lebih gelap. Berdasarkan sinopsis resmi, film ini berlatar hampir dua dekade setelah Paul menguasai Imperium. Kini menjadi kaisar, Paul harus menghadapi pemberontakan, konspirasi, ancaman baru, serta konsekuensi dari pemerintahannya sendiri.
Perubahan ini menjadi inti perjalanan Paul: dari korban perebutan kekuasaan, menjadi sosok yang merebut takhta, lalu menghadapi dampak dari kekuasaan yang telah ia bangun.
Baca juga: Lebih Cepat dari AS! Dune: Part Three dan Avengers: Doomsday Tayang 16 Desember di Indonesia
2. Evolusi Visual: Gurun Sunyi hingga Istana yang Penuh Intrik
(Sumber: IMDb)
Secara visual, dua film pertama memiliki karakter yang kuat. Dune: Part One menggunakan lanskap luas, warna tanah yang cenderung redup, serta bangunan monumental untuk menggambarkan dunia yang asing dan keras. Komposisi gambar yang megah berpadu dengan banyak momen sunyi, memperlihatkan betapa kecilnya manusia di tengah alam Arrakis.
Pada Dune: Part Two, skala konflik semakin besar. Warna gurun yang menyengat, adegan pertempuran, dan visual penunggang cacing pasir raksasa atau Shai-Hulud memperkuat kesan epik. Film ini juga menghadirkan pendekatan hitam-putih inframerah untuk menggambarkan Giedi Prime, planet asal House Harkonnen, sehingga terasa berbeda dari lanskap Arrakis.
Untuk film ketiga, Denis Villeneuve kembali menyutradarai, tetapi sinematografinya ditangani Linus Sandgren, menggantikan Greig Fraser yang mengerjakan dua film sebelumnya. Perubahan ini membuat Part Three menarik dinantikan dari sisi bahasa visual.
Apakah penonton akan lebih banyak melihat kemegahan istana, ruang kekuasaan, dan suasana yang terasa menyesakkan? Hal itu masih perlu dilihat dalam filmnya. Yang jelas, konflik Paul sebagai kaisar membuka ruang bagi pendekatan visual yang berbeda dari perjalanan bertahan hidup di gurun.
3. Paul dan Chani Menghadapi Babak Baru
Perubahan karakter menjadi salah satu bagian terpenting dalam trilogi ini. Paul tidak lagi hanya berhadapan dengan musuh dari luar, tetapi juga harus menghadapi dampak dari keputusan dan citra dirinya sebagai pemimpin mesianik.
Chani pun memiliki posisi penting dalam konflik tersebut. Sejak Part Two, ia menunjukkan sikap skeptis terhadap ramalan dan kultus yang berkembang di sekitar Paul. Ketegangan di antara keduanya menjadi salah satu persoalan emosional yang menarik untuk diikuti ketika Paul harus mempertahankan kekuasaannya.
Film ketiga juga menghadirkan kembali Lady Jessica, Princess Irulan, dan Stilgar. Selain itu, Robert Pattinson bergabung sebagai Scytale, sosok yang berkaitan dengan konspirasi dalam cerita Dune Messiah. Jason Momoa juga kembali, kali ini dalam peran Hayt.
4. Alia Atreides dan Poster Karakter yang Viral
(Sumber: WarnerBross)
Karakter lain yang patut diperhatikan adalah Alia Atreides, adik Paul yang diperankan Anya Taylor-Joy. Dalam Part Two, Alia baru muncul sebagai janin yang dapat berkomunikasi dengan ibunya melalui kesadaran leluhur. Di film ketiga, ia akan hadir sebagai karakter dewasa yang menjadi bagian dari dinamika kekuasaan keluarga Atreides.
Dalam novel Frank Herbert, Alia memiliki kemampuan dan beban psikologis yang berkaitan dengan ingatan para leluhurnya. Namun, bagaimana detail tersebut diterjemahkan ke layar lebar masih menjadi bagian yang perlu ditunggu.
Perhatian penggemar juga meningkat setelah poster karakter resmi Dune: Part Three dirilis. Materi promosinya menampilkan wajah para pemeran, termasuk Paul, Chani, Alia, Princess Irulan, dan Scytale. Pendekatan visual yang menonjolkan karakter ini memberi petunjuk tentang tokoh-tokoh yang akan memainkan peran penting dalam babak penutup.
Oppal Gengs, evolusi Dune memperlihatkan bahwa kisah ini terus bergerak dari petualangan bertahan hidup menuju pertanyaan yang lebih rumit tentang kekuasaan dan konsekuensinya. Part One membangun dunianya, Part Two memperlihatkan kebangkitan Paul, sedangkan Part Three akan mengeksplorasi harga yang harus dibayar setelah ia menjadi kaisar.
Dune: Part Three dijadwalkan mulai tayang secara internasional pada 16 Desember 2026, sementara perilisan di Amerika Utara dijadwalkan pada 18 Desember 2026. Jadi, sebelum kembali ke Arrakis, tidak ada salahnya menonton ulang dua film sebelumnya untuk menangkap detail cerita dan perubahan karakter yang akan berpengaruh pada babak terakhirnya.
Naufal Mamduh