Gen Z dan Milenial Mulai Serbu Pekerjaan Ini, Gajinya Bisa Tembus Rp4 Miliar

  • Naufal Mamduh

Oppal Gengs, ada satu bidang pekerjaan yang kini makin ramai dimasuki generasi Z dan milenial. Di tengah persaingan mencari kerja yang semakin ketat, sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) justru membuka peluang baru bagi pekerja muda.

Bukan cuma karena teknologinya sedang berkembang pesat, pekerjaan di bidang AI juga menawarkan penghasilan yang tergolong tinggi. Bahkan, beberapa posisi memiliki rata-rata gaji tahunan yang bisa mencapai miliaran rupiah.

Temuan tersebut berdasarkan survei LinkedIn yang diterbitkan pada pertengahan Agustus 2026. Survei ini mengidentifikasi 12 pekerjaan bidang AI dengan pertumbuhan tercepat dengan menganalisis data berdasarkan usia, jenis kelamin, serta tingkat pendidikan pekerja yang direkrut.

Hasilnya menunjukkan banyak pekerja muda mulai memanfaatkan momentum tersebut dan masuk ke berbagai posisi yang berkaitan dengan rekayasa AI, pengembangan teknologi, hingga posisi kepemimpinan.

Kepala Ekonomi LinkedIn Kory Kantenga mengatakan dirinya cukup terkejut melihat bagaimana pekerja muda memanfaatkan perkembangan pasar tenaga kerja AI.

Gen Z dan Milenial Mulai Masuk ke Sektor AI


Sumber: www.magnific.com 

Oppal Gengs, temuan ini menjadi menarik karena generasi muda selama beberapa tahun terakhir justru menghadapi tantangan dalam mendapatkan pekerjaan.

Kondisi tersebut terjadi di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia. Perubahan kebutuhan perusahaan serta perkembangan AI membuat sejumlah pekerjaan tingkat pemula ikut mengalami perubahan.

Namun, di sisi lain, pertumbuhan teknologi tersebut menciptakan jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan khusus.

Data LinkedIn menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan AI di platform tersebut meningkat 14 persen antara 2023 dan 2024. Pertumbuhannya kemudian melonjak hingga 156 persen antara 2024 dan 2025.

Enggak cuma jumlah lowongannya yang meningkat, pekerjaan AI juga dikenal menawarkan gaji tinggi.

Dua posisi yang banyak diminati adalah insinyur lapangan dan insinyur AI. Rata-rata gaji tahunan untuk kedua posisi tersebut masing-masing mencapai sekitar USD199.000 atau Rp3,5 miliar dan USD166.000 atau Rp2,9 miliar, dengan asumsi kurs Rp17.720 per dolar AS.

Sementara itu, posisi kepala AI menawarkan penghasilan yang lebih tinggi lagi. Generasi milenial mencakup sekitar 60 persen dari perekrutan baru untuk posisi tersebut, dengan rata-rata gaji mencapai USD236.000 atau sekitar Rp4,1 miliar per tahun.

Baca juga: Career Co-Piloting, Fenomena Baru yang Jadi Tren di Kalangan Gen Z

Kenapa Gaji Pekerjaan AI Tinggi?

Sumber: www.magnific.com 

Lantas, apa yang membuat perusahaan berani memberikan gaji sebesar itu?

Menurut Kantenga, perusahaan saat ini ingin meningkatkan kemampuan dan produktivitas mereka dengan cepat. Karena itu, kebutuhan terhadap pekerja yang memiliki keahlian AI ikut meningkat.

Talenta dengan kemampuan tersebut masih tergolong spesifik sehingga perusahaan bersedia menawarkan kompensasi tinggi untuk mendapatkan pekerja yang sesuai.

Pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting. Menurut LinkedIn, sekitar 91 persen pekerja di bidang AI memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi.

Semakin senior posisinya, tingkat pendidikan pekerjanya juga cenderung semakin tinggi. Hampir setengah pekerja yang direkrut untuk posisi kepala AI memiliki gelar pascasarjana, sedangkan sekitar 20 persen di antaranya memiliki gelar doktor.

Namun, tingginya gaji di sektor AI juga memiliki sisi lain. Kantenga menilai perbedaan akses terhadap pekerjaan teknologi berpotensi memperlebar kesenjangan upah antara pekerja yang memiliki keterampilan AI dan mereka yang belum memilikinya.

Mau Masuk Dunia Kerja AI? Ini Bekalnya

Buat Oppal Gengs yang tertarik ikut masuk ke sektor AI, kemampuan ilmu komputer bisa menjadi salah satu modal penting. Namun, kemampuan tersebut sebaiknya tidak berhenti pada teori.

Pengalaman di bidang data juga perlu diperkuat. Pekerja AI perlu memahami bagaimana data dipersiapkan, diolah, dan digunakan secara efektif.

Kalau belum punya pengalaman profesional, kamu bisa mulai dari proyek pribadi. Misalnya, membuat aplikasi sederhana berbasis AI, mengolah dataset, atau mencoba proyek machine learning.

Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Tak Ingin Berada dalam Budaya Kerja Toxic

Proyek tersebut bisa dikumpulkan menjadi portofolio untuk menunjukkan kemampuan saat melamar pekerjaan.

Jadi, Oppal Gengs, perkembangan AI memang membawa perubahan besar di dunia kerja. Namun, di balik tantangan tersebut, ada pula peluang baru yang bisa dimanfaatkan. Bagi mereka yang siap belajar dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, pekerjaan AI bisa menjadi salah satu bidang dengan prospek karier dan penghasilan yang menarik.