Kenapa Erupsi Gunung Berapi Justru Bisa Mendinginkan Bumi?

  • Muhammad Arsyad

Indonesia sedang diselimuti bencana erupsi gunung berapi. Setidaknya enam gunung erupsi secara bersamaan. Sedangkan per 9 September 2026, terdapat empat gunung yang mengalami erupsi, antara lain Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, dan Gunung Ili Lewotolok.


Erupsi gunung berapi sendiri adalah jenis bencana alam yang identik dengan lava panas, awan panas, abu vulkanik, hingga gas beracun. Karena memang, yang terjadi ketika gunung meletus adalah magma dan material vulkanik yang panas keluar dari perut bumi.


Namun, di balik itu ternyata erupsi atau letusan gunung berapi bisa membuat suhu bumi turun untuk sementara waktu. Pertanyaannya, kok bisa magma panas keluar justru suhunya menjadi dingin?


Bukan Abunya, Tapi Sulfur Dioksidanya



Penyebab utama kenapa ketika gunung meletus justru suhu bumi menjadi turun alias dingin untuk sementara waktu bukan karena abu vulkaniknya, melainkan gas vulkanik yang bernama sulfur dioksida atau SO₂ yang bisa membentuk partikel sangat kecil di atmosfer.

Jadi ketika gunung meletus, material seperti batuan, abu, dan berbagai gas termasuk sulfur dioksida akan dilepaskan. Tetapi biasanya tidak bertahan lama di udara. Sebagian besar akan jatuh kembali ke permukaan dalam hitungan hari atau minggu.

Apabila letusannya sangat besar, gas SO₂ akan terdorong bahkan hingga menyentuh stratosfer, yang merupakan lapisan atmosfer yang tinggi 10-50 kilometer di atas permukaan bumi. Ketika menyentuh stratosfer, SO₂ akan mengalami reaksi kimia dengan uap air, sehingga membentuk asam sulfat yang kemudian menjadi aerosol sulfat berukuran sangat kecil.

Aerosol ini yang membuat bumi sedikit dingin. Lalu, bagaimana cara kerja aerosol, kok dia bisa mendinginkan bumi?

Baca juga: Fakta di Balik Julukan Indonesia “Ring of Fire”, Ternyata Punya 127 Gunung Api Aktif

Cara Aerosol Mendinginkan Bumi

Sederhananya gini, matahari akan terus mengirimkan energi ke bumi. Sebagian energi tersebut diserap oleh bumi dan kemudian memanaskan planet. Nah, ketika terjadi erupsi gunung berapi atau gunung meletus, aerosol sulfat akan tersebar di stratosfer.

Partikel-partikelnya dapat memantulkan dan menghamburkan sebagian radiasi matahari kembali ke angkasa. Maka, energi matahari yang mencapai bumi akan berkurang. Lebih sedikit energi matahari yang masuk, itu artinya kondisi bumi menjadi lebih sejuk alias bumi mengalami pendinginan.

Menariknya, NASA itu pernah bilang bahwa aerosol sulfat dari hasil letusan gunung berapi dalam skala besar, bisa bertahan selama beberapa tahun di stratosfer karena tidak mudah tersapu hujan. Dia itu beda seperti partikel yang berada di lapisan atmosfer bagian bawah.

Baca juga: Mengenal Erupsi Strombolian, Fase Baru Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Contohnya Letusan Gunung Tambora 1815


Salah satu contoh yang paling ekstrem dari fenomena ini adalah ketika Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus tahun 1815. Letusan tersebut sangat besar. Bahkan disebut-sebut salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah manusia modern. Akibat letusan itu material serta gas vulkanik dalam jumlah luar biasa menyentuh atmosfer bumi.

Setahun usai letusan itu, yakni tahun 1816, di sejumlah wilayah Eropa dan Amerika Utara terjadi fenomena “Year Without Summer” atau “Tahun Tanpa Musim Panas”. Hal ini disebabkan oleh jutaan ton aerosol sulfat dari letusan Gunung Tambora yang mengendap di stratosfer.

Bumi Memang Mendingin, Tapi Sementara


Perlu dicatat, pendinginan akibat letusan gunung berapi tidak berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Ini berbeda dengan perubahan iklim jangka panjang.

Aerosol sulfat yang mengendap pada akhirnya juga akan dikeluarkan di stratosfer. Makanya efek dinginnya secara umum cuma berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun saja, nggak sampai puluhan atau ratusan tahun.

Baca juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Bergerak Menjauhi Indonesia, Menuju Samudra Hindia

Di samping itu gunung berapi juga menghasilkan gas rumah kaca atau karbon dioksida (CO₂), salah satu gas yang menjadi pemanasan global. Namun skalanya jauh lebih kecil dibandingkan emisi dan aktivitas manusia. Gas inilah yang punya efek berlainan, yakni menghangatkan.

Jadi gunung berapi sebenarnya bukan pendingin alami. Hawa dingin yang tercipta hanyalah efek dari erupsi. Lagian, bukan berarti setiap erupsi gunung berapi otomatis membuat bumi dingin. Apalagi jika letusannya hanya dalam skala kecil. Itu efeknya paling di ranah lokal atau regional saja.

Sampai sini jelas ya, bahwa yang membuat erupsi gunung berapi bisa mendinginkan bumi bukan karena lava atau abunya, melainkan karena gas sulfur dioksida yang mencapai stratosfer dan berubah menjadi aerosol sulfat. Partikel itu membuat matahari tidak maksimal mengirim energinya ke bumi. Alhasil, bumi pun sedikit lebih sejuk.