Prabowo sempat menyinggung soal cari negara lain di pidato Harkopnas ke-79.
Finlandia jadi negara paling bahagia sedunia 9 tahun berturut-turut.
Kosta Rika bikin kejutan besar dengan masuk 4 besar dunia.
Skor kebahagiaan dihitung dari data resmi Gallup, Oxford, dan PBB.
Oppal Gengs pasti sudah pada dengar soal pidato Presiden Prabowo Subianto yang sempat ramai dibahas belakangan ini. Saat memberikan sambutan pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Jakarta, Minggu (12/7), beliau menyampaikan pesan tegas soal sikap pesimisme.
Source: Pexels
Prabowo bahkan mempersilakan siapa pun yang merasa masa depan Indonesia suram untuk mencari negara lain karena tidak ada yang melarang.
Pernyataan itu pun langsung memicu beragam reaksi, mulai dari yang mengkritik sampai menjadikannya bahan candaan di media sosial. Kalimat tersebut kemudian cepat menyebar di berbagai platform digital.
Baca Juga: 5 Cara Gen Z Menghadapi Kerjaan Menumpuk Tanpa Burnout
Nah, daripada cuma jadi bahan meme doang, yuk kita coba serius dikit. Jika memang ada yang penasaran, “Enaknya pindah ke negara mana, sih?” sebenarnya ada data yang bisa dijadikan acuan. Tentu bukan untuk menentukan nasib hidup seseorang secara mutlak, melainkan sebagai gambaran mengenai negara-negara yang dinilai memiliki tingkat kebahagiaan dan kualitas hidup yang tinggi berdasarkan berbagai indikator.
Data tersebut bisa dicek langsung melalui laporan tahunan yang disusun Gallup bersama University of Oxford dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan ini bukan sekadar mengukur seberapa sering warganya tersenyum, melainkan menilai berbagai aspek, seperti tingkat kesejahteraan, dukungan sosial, kebebasan mengambil keputusan, harapan hidup, hingga persepsi terhadap korupsi.
Jadi, kalau mau membahas negara yang paling nyaman atau paling “healing” untuk ditinggali, setidaknya kita punya pijakan berupa data, bukan sekadar asumsi atau unggahan viral di media sosial.
Nah, berikut 5 fakta unik negara-negara paling bahagia di dunia versi lembaga riset internasional!
1. Finlandia, Juara Bertahan yang Susah Ditandingi
Ngomongin negara paling bahagia sedunia, nama Finlandia emang selalu jadi juara tak terbantahkan. Finlandia pertama kali menduduki posisi puncak pada World Happiness Report 2018 dan sejak saat itu posisinya tidak pernah tergeser, menjadikannya juara dalam sembilan edisi berturut-turut sejak tahun 2018.
Bahkan di edisi 2026, Finlandia disebut berada dalam kelompok tersendiri alias “group of one” karena skornya jauh meninggalkan negara-negara lain di bawahnya.
Angkanya juga cukup mentereng buat ukuran skor kebahagiaan dunia. Finlandia kembali menempati posisi pertama sebagai negara paling bahagia di dunia dengan skor 7,764 dari skala 10.
Kunci suksesnya adalah sistem kesejahteraan sosial yang kuat, tingkat kepercayaan antar warga yang tinggi, dan kebebasan personal yang dijaga betul oleh negara. Kalau soal cari tempat healing beneran, Finlandia jelas nggak ada tandingannya.
2. Islandia, Negeri Es yang Diam-Diam Bahagia
Selain Finlandia, tetangga-tetangganya di kawasan Nordik juga sama kuatnya. Selain Finlandia, empat negara Nordik lainnya, Islandia, Denmark, Swedia, dan Norwegia, sukses menembus peringkat enam besar dunia, yang artinya lima dari enam negara teratas berasal dari satu kawasan geografis yang sama.
Islandia bahkan langganan nongkrong di posisi dua atau tiga besar dari tahun ke tahun. Skornya juga nggak kalah tipis dari sang juara. Islandia meraih skor 7,52, cuma beda tipis dari Finlandia di posisi puncak.
Negara kecil dengan populasi minim ini dikenal punya rasa kekeluargaan antar warga yang kuat banget, ditambah akses layanan publik yang merata sampai ke pelosok. Buat Oppal Gengs yang suka suasana tenang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, Islandia bisa jadi tempat healing idaman.
3. Denmark, Rumah Konsep “Hygge” yang Nyaman
Kalau Oppal Gengs pernah dengar istilah hygge alias konsep hidup santai dan nyaman ala Skandinavia, nah Denmark ini rumahnya. Denmark masuk jajaran negara Nordik yang konsisten menembus peringkat enam besar dunia dalam laporan kebahagiaan global, sejajar dengan Finlandia, Islandia, Swedia, dan Norwegia.
Filosofi hidup santai ini bukan cuma tren media sosial, tapi sudah mendarah daging di keseharian warganya. Skor kebahagiaan Denmark juga tergolong tinggi, yaitu 7,52, sejajar dengan Islandia di posisi runner-up dunia).
Sistem kesejahteraan sosial yang menyeluruh, mulai dari pendidikan gratis sampai jaminan kesehatan, bikin warganya nggak terlalu pusing mikirin survival harian. Kalau Oppal Gengs pengin healing sambil belajar hidup lebih santai dan nggak buru-buru, Denmark cocok banget masuk wishlist.
4. Kosta Rika, Kejutan Terbesar dari Amerika Latin
Nah ini yang bikin geger dunia riset kebahagiaan global, Oppal Gengs. Kosta Rika berhasil melompat ke peringkat 4 dunia dengan skor 7,439, pencapaian tertinggi yang pernah diraih oleh negara Amerika Latin sepanjang sejarah rilisnya World Happiness Report.
Padahal negara ini nggak punya PDB per kapita setinggi negara-negara Eropa, tapi tetap bisa mengalahkan mayoritas negara maju lainnya.
Menariknya, tren positifnya konsisten naik terus dari tahun ke tahun. Pada laporan 2024 Kosta Rika baru menempati peringkat ke-12, lalu setahun kemudian meroket ke posisi ke-6, dan kini di 2026 berhasil menembus posisi empat besar. Fakta ini jadi bukti nyata bahwa kekayaan ekonomi bukan satu-satunya kunci kebahagiaan sebuah bangsa, faktor sosial dan lingkungan ternyata bisa jauh lebih berpengaruh.
5. Belanda, Wakil Eropa Barat yang Tetap Solid
Kalau Oppal Gengs pengin healing yang lebih dekat sama gaya hidup urban modern, Belanda bisa jadi opsi menarik. Negara ini konsisten masuk jajaran 10 besar dunia, dengan urutan setelah kelompok Nordik dan Kosta Rika yaitu Belanda, Luksemburg, dan Swiss yang melengkapi daftar 10 besar dunia. Artinya, meski bukan negara Nordik, Belanda tetap punya kualitas hidup yang diakui secara global.
Keunggulan Belanda terletak pada keseimbangan antara sistem sosial yang kuat dan gaya hidup yang lebih santai dibanding negara Eropa Barat lainnya. Laporan resmi menyoroti pentingnya dukungan sosial, kepercayaan, dan rasa kebersamaan komunitas dalam membentuk penilaian hidup warganya. Buat Gen Z yang pengin healing sambil tetap dekat budaya urban dan komunitas internasional, Belanda cukup layak dipertimbangkan.
Perdebatan soal “cari negara lain” sebenarnya bisa menjadi pengingat bahwa kualitas hidup sebuah negara bukan sekadar perkara opini. Ada ukuran yang digunakan secara ilmiah.
Justru, yang lebih penting bukanlah memperdebatkan siapa yang ingin pindah atau tetap tinggal, melainkan memahami mengapa suatu negara mampu membuat warganya merasa lebih bahagia.
Kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh rasa aman, kepercayaan kepada sesama, layanan publik yang baik, dan kesempatan menjalani hidup dengan lebih bebas.
Boy Nugroho