Kasus Influenza A Mengalami Lonjakan di Indonesia, Berbeda dengan Flu Biasa ini Cara Mencegahnya

  • Muhammad Ichsan

Terjadi peningkatan tren kasus influenza A di Indonesia sejak awal September 2026. Hal ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat usai IGD di sejumlah rumah sakit dilaporkan dipadati pasien anak dengan demam tinggi. Meski begitu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa aktivitas penyebarannya masih dalam kategori rendah dan masih bisa dikendalikan.


Source: Magnific


Apa Itu Influenza A?


Influenza A merupakan salah satu jenis virus influenza yang dapat menginfeksi sistem pernapasan manusia, meliputi hidung, tenggorokan, hingga paru-paru, dan dikenal sangat mudah menular antarmanusia. Virus ini memiliki beberapa subtipe , dengan yang paling banyak ditemukan saat ini adalah A(H1N1)pdm09, disusul subtipe A(H3N2) dalam jumlah lebih kecil.


Bedanya dengan Influenza pada Umumnya


Penyakit influenza sendiri sebenarnya terbagi dalam  beberapa tipe, yakni influenza A, B, C, dan D. Yang paling sering menimbulkan wabah musiman pada manusia adalah tipe A dan B. Influenza A dikenal lebih sering bermutasi dan memiliki potensi menyebabkan wabah berskala lebih luas dibandingkan tipe B, karena virusnya dapat menginfeksi manusia maupun hewan, sehingga peluang terjadi perubahan genetik virus (mutasi) menjadi lebih tinggi. Sementara itu, influenza B umumnya hanya menginfeksi manusia dan cenderung menimbulkan gejala yang sedikit lebih ringan dibandingkan dengan influenza A, meski keduanya sama-sama bisa menimbulkan gejala flu pada umumnya seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri otot.


Data Terbaru Kasus di Indonesia


Berdasarkan Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 Kemenkes yang diperbarui pada 19 September 2026, proporsi spesimen positif influenza pada minggu ke-36 tercatat meningkat menjadi 46 persen, naik dari 35 persen pada minggu sebelumnya. Dari 86 spesimen yang dinyatakan positif influenza, sebanyak 76 di antaranya merupakan subtipe A(H1N1)pdm09, sementara delapan lainnya adalah A(H3N2), dan sisanya influenza B/Victoria.


Jika dilihat dari data rawat inap, kasus influenza  ini paling banyak ditemukan dalam kelompok umur kisaran 0-4 tahun. Anak-anak memang lebih rentan terhadap infeksi virus influenza dan lebih berisiko mengalami komplikasi, mengingat sistem imun mereka masih dalam tahap pembangunan dengan pengalaman terhadap berbagai jenis virus influenza, ditambah dengan paparan yang lebih besar di lingkungan seperti daycare maupun sekolah.


Penjelasan Kemenkes dan DPR


Menteri Kesehatan Budi Gunardi Sadikin mengakui bahwa memang terjadi peningkatan kasus influenza A dalam beberapa waktu terakhir ini, namun ia juga menegaskan bahwa kondisi ini bersifat musiman dan masih dapat dikendalikan. Meski demikian, Ketua DPR RI, Puan Maharani, tetap meminta pemerintah memberikan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai laporan peningkatan kasus influenza A di Indonesia. Apalagi, dilaporkan terjadi kepadatan IGD rumah sakit di sejumlah daerah akibat peningkatan kasus influenza A ini," kata Puan.

Puan turut mendorong pemerintah untuk memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. "Masyarakat membutuhkan informasi yang dapat dipercaya mengenai tingkat penyebaran, kelompok yang perlu mendapat perhatian, serta langkah yang harus dilakukan apabila anggota keluarga mengalami gejala," tuturnya.

Tak Perlu Disikapi Berlebihan

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Tri Wibawa, menilai peningkatan temuan influenza A ini tidak perlu disikapi secara berlebihan oleh masyarakat. Meski begitu, tetap perlu dipersiapkan langkah mitigasi. "Temuan influenza A pada bulan Agustus 2026 yang meningkat tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, meskipun tetap saja perlu disiapkan mitigasi risikonya," jelas Tri Wibawa.


Sejumlah kelompok masyarakat yang lebih rentan mengalami komplikasi akibat virus influenza, di antaranya lansia berusia di atas 65 tahun, anak-anak di bawah 5 tahun, penderita penyakit kronis, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, harus lebih diperhatikan dan diwaspadai kondisi kesehatannya.


Baca juga: Mengenal September Sadness: Penyebab Rasa Cemas dan Sedih Menyambut Akhir Tahun


Imbauan Pencegahan


Dalam langkah mencegah terjadinya penularan lebih lanjut, masyarakat diimbau untuk menerapkan kembali sejumlah protokol kesehatan (prokes) dasar, seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker saat berada di keramaian atau ketika bergejala, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit. Selain itu, menjaga pola hidup sehat dengan istirahat cukup dan asupan gizi seimbang juga penting untuk memperkuat daya tahan tubuh terhadap infeksi virus.