Masih ingat heboh-hebohnya animasi Merah Putih: One for All setahun lalu? Film yang sempat jadi bahan candaan seantero linimasa karena kualitas visualnya itu kini punya kabar baru yang gak kalah bikin geger: versi live-action-nya bakalan digarap.
Kabar tersebut langsung disampaikan sendiri oleh Endiarto, sang produser sekaligus sutradara, sebagaimana dilansir dari Kompas.
Buat kalian yang dulu ikut nyinyir di kolom komentar atau bahkan cuma nonton demi konten, tenang aja, ceritanya belum selesai. Berikut rangkuman fakta-fakta soal kelanjutan Merah Putih: One for All live-action yang wajib kalian tahu. Yuk, intip apa saja Oppal Gengs!
Konfirmasi Resmi dari Sang Sutradara
Kabar ini bukan gosip atau rumor recehan hasil framing warganet. Endiarto sendiri yang mengonfirmasi langsung ke media. “Iya betul. Memang benar dari saya,” ujarnya singkat dan padat.
Baca Juga: 6 Fakta Mencengangkan Serial Animasi Bahlil Lahadalia “Melangkah dari Timur”
Pernyataan tersebut seolah menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar wacana. Setelah animasinya tayang pada 14 Agustus 2025 dan langsung jadi sorotan publik karena kualitas visual serta cerita yang dinilai jauh dari mulus, kini giliran versi live-action yang akan diuji ketahanannya di hadapan penonton bioskop.
Salah satu karakter di Merah Putih One For All. (Sumber: Detik)
Alasan di Balik Keputusan Pembuatan Live Action
Endiarto punya alasan yang cukup menohok soal kenapa dia balik lagi ke medan perang perfilman kemerdekaan. Menurutnya, tahun ini (2026) ternyata tidak ada satu pun karya bertema proklamasi yang tayang di bioskop. Padahal dulu, saat animasinya dikritik habis-habisan, dia berharap para pengkritik itu bisa unjuk gigi bikin karya serupa yang lebih baik.
“Karena belum ada tayangan yang serupa, kan kita nanti tuh tahun ini. Apakah yang dulu komen bisa me-remake, bisa begini, memberi nilai dan sebagainya, ternyata tidak ada yang berkontribusi dan tidak ada tayangan film yang khusus proklamasi,” katanya.
Perfiki Tetap Jadi Rumah Produksi, tapi Pintu Kolaborasi Terbuka Lebar
Produksi live-action ini bakal kembali digarap oleh Perfiki, dengan Endiarto tetap memegang kendali sebagai sutradara. Namun bedanya kali ini, dia membuka opsi kolaborasi buat siapa pun pihak yang berminat ikut terlibat. Baik itu production house, perusahaan swasta, atau pihak lain, semua dipersilakan gabung.
“Kalau ada yang mau, kita sih terbuka. Mau PH, mau company, mau apa pun lah," ungkap Endiarto. Ajakan ini masuk akal mengingat sebelumnya, proses produksi versi animasi sempat diklaim dikerjakan dengan semangat “gotong royong” tanpa budget pasti, bahkan kru disebut tidak dibayar. Kalau kali ini ada pihak lain yang mau nimbrung dana atau sumber daya, tentu produksi live-action punya peluang lebih besar buat naik kelas.
Proyek Non-Komersial
Realitanya, bikin film bertema proklamasi bukan proyek yang menggiurkan secara bisnis. Endiarto sendiri mengakui banyak pihak enggan terlibat karena dianggap tidak komersial.
“Karena memang untuk film proklamasi ini kan banyak yang enggak mau ya karena enggak komersial, makanya kita harus berjibaku untuk mewujudkan ini,” jelasnya.
Karakter di film Merah Putih One For All. (Sumber: Ussfeeds)
Versi animasinya sendiri, meski digadang menelan biaya produksi sekitar Rp 6,7 miliar, sempat dilaporkan sepi penonton di hari pertama tayang, salah satu bioskop di Cileungsi bahkan hanya dihadiri sekitar 12 orang dalam satu studio. Di platform IMDb, filmnya pun dibanjiri rating rendah dari penonton internasional.
Target Tayang
Buat yang penasaran kapan bisa nonton di bioskop, versi live-action Merah Putih: One for All ditargetkan tayang bertepatan dengan momen kemerdekaan, tepatnya 17 Agustus 2027. Target ini konsisten dengan pola yang sama seperti versi animasinya dulu, yang sengaja dirilis mepet dengan perayaan HUT RI.
Merah Putih One For All bakal jadi live-action. (Sumber: Wikipedia)
Artinya, tim produksi punya waktu sekitar setahun untuk menggarap proyek ini dari nol. Waktu yang terbilang mepet untuk produksi film live-action, apalagi kalau mengingat animasinya sendiri baru rampung sekitar dua bulan sebelum tayang. Tapi mengingat semangat “gotong royong” yang selalu digaungkan tim Perfiki, target ambisius ini sepertinya sudah jadi ciri khas mereka.
Terlepas dari perjalanan versi animasinya yang penuh drama dan kritik pedas, proyek live-action ini jadi semacam babak baru yang menarik untuk diikuti. Apakah kali ini kualitasnya bakal jauh lebih matang, atau justru mengulang cerita lama? Yang jelas, Oppal Gengs, tahun depan bakal jadi momen pembuktian buat Endiarto dan tim Perfiki.
Boy Nugroho