Sering nggak sih ngerasa burnout cuma gara-gara scrolling medsos? Baru buka aplikasi, langsung disambut berita kebakaran, banjir, konflik, kelangkaan BBM, sampai gunung erupsi. Rasanya hampir setiap hari timeline kita isinya tragedi yang bikin dada sesak dan kepala pusing.
Wajar banget kalau pada akhirnya kita merasa butuh break. Kita pengin naruh HP, berhenti baca berita, dan ngasih waktu buat kepala kita supaya lebih chill dan waras.
Dan jujur aja, itu sama sekali nggak salah. Menjaga kesehatan mental itu penting. Tapi, pernah kepikiran nggak sih...
Kita bisa menjauh dari bad news, tapi nggak semua orang punya pilihan itu.
Buat kita, video kebakaran mungkin cuma Reels 30 detik yang bisa kita swipe. Kelangkaan BBM atau bencana alam mungkin sekadar headline yang kita baca sambil nunggu kereta atau sebelum balik kerja.
Tapi bagi mereka yang terdampak? Itu bukan sekadar konten. Itu rumahnya. Itu pekerjaannya. Itu lingkungan tempat dia hidup.
Di sinilah bikin sadar bahwa kita bisa dengan mudah menutup aplikasi, tapi mereka nggak bisa menutup kenyataan.
Jangan jadikan mindfulness sebagai alasan untuk denial

Kita memang perlu belajar mengelola emosi dan nggak membiarkan dunia yang lagi kacau ini ikut mengacaukan seluruh isi kepala kita. Tapi, konsep mindful sering disalahartikan jadi, "Gue nggak mau peduli, gue nggak mau terganggu oleh apa pun demi kedamaian batin gue."
Padahal, mindfulness justru dimulai dari kesadaran. Kesadaran untuk melihat apa yang sedang terjadi di depan mata kita. Gimana kita mau benar-benar present (hadir) kalau kita menutup mata dari realita?
Di banyak pembahasan psikologi, kesadaran adalah hal yang sangat fundamental. Melihat apa yang terjadi, membedakan mana fakta dan opini, lalu secara sadar menerima bahwa "oke, gue tahu hal buruk ini memang sedang terjadi."
Menariknya, sebuah penelitian dari Hafenbrack dkk. (2020) membuktikan bahwa mindfulness yang dilatih dengan benar justru bikin seseorang jadi lebih other-oriented. Artinya, orang yang mindful malah jadi lebih peduli, lebih peka, dan lebih bisa merasakan apa yang dialami orang lain, bukan malah jadi apatis
Ketenangan yang sehat itu bukan ketenangan karena ketidaktahuan.
Ada perbedaan besar antara dua mindset ini:
“Gue tenang karena gue nggak tahu (dan nggak mau tahu).”
“Gue tenang karena gue tahu apa yang terjadi, gue tahu apa yang gue rasakan, dan gue memilih bagaimana harus meresponsnya.”
Jelas, nomor dua adalah bentuk mindfulness yang sebenarnya.
Memilih untuk tetap mindful di tengah gempuran bad news itu sama sekali nggak salah. Kita nggak dipaksa untuk selalu turun langsung ke lapangan. Kita nggak harus ngikutin detail setiap berita yang ada, dan kita nggak dituntut untuk punya opini tentang semua hal di internet.
Tapi setidaknya, ketika kita punya privilege untuk bisa menjauh dari sebuah masalah, jangan sampai kita lupa bahwa ada orang-orang di luar sana yang nggak punya pilihan yang sama.
Terus, boleh nggak sih kita istirahat dari bad news?
Boleh. Banget. Kalau kepala sudah penuh, istirahatlah. Kalau mental sudah capek, tutup layarmu. Kalau butuh jeda, ambil jeda itu. Kita nggak perlu merasa bersalah karena ingin menjaga kewarasan diri sendiri.
Tapi, setelah kamu merasa lebih tenang dan baterai energimu sudah terisi lagi, cobalah pelan-pelan bertanya pada dirimu sendiri:
“Setelah gue tahu semua ini sedang terjadi, apa hal kecil yang bisa gue lakukan?”
Nggak perlu muluk-muluk. Sesederhana menyebarkan informasi donasi yang valid, membagikan berita positif, atau sekadar lebih berempati sama orang-orang di sekitar kita.
Jadi, mari rehat kalau memang lelah. Tapi setelah itu, mari kembali sadar dan hadir untuk dunia yang butuh lebih banyak empati.
Bayu Dewantara