Ye Live in Jakarta 2026, Kala Dunia Berada di Bawah Kaki Kanye West

  • Syafrina Syaaf

Konsep dan visual panggung bola dunia yang berputar-putar menjadi metafora tanpa samar, Ye atau Kanye West seolah ingin menyatakan bahwa dia masih berada di puncak popularitas.

Jakarta bukan sekadar menjadi persinggahan konser, tetapi merupakan satu-satunya destinasi Ye menggelar konser di Asia Tenggara. Total sekitar 50.000 penonton termasuk 20.500 berasal dari mancanegara memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu (24/10/2026).

Musik Menjadi Bahasa Ye dalam Berinteraksi dengan Penggemar


Rangkaian lagu-lagu popular Ye yang telah membentuk perjalanan panjang kariernya satu per satu berkumandang di stadion GBK. Selama dua jam Ye mempersembahkan pertunjukan dengan cara yang barangkali hanya bisa dilakukan oleh seorang seniman berimajinasi besar.

Ye memulai konser tepat waktu jam 21.00 WIB dengan lagu “King”, sorak sorai penonton menggema di seluruh stadion. Ye menampilkan seluruh playlist tanpa sapaan hangat atau percakapan bertele-tele. Tampaknya, musik menjadi bahasa baginya dalam berinteraksi dengan penggemar.

Visual Panggung Megah Ciptakan Pengalaman Nyaris Surealis


Menonton konser Ye tak hanya menikmati musik dan lagu, tapi juga menyaksikan seni tata panggung dan konsep visual yang megah. Proyeksi permukaan bumi pada panggung bola dunia, permainan lighting, laser, haze, smoke effect, dan kembang api menciptakan pengalaman visual yang nyaris surealis.

Selama hampir dua jam, Ye membawakan sekitar 30 lagu, termasuk sejumlah karya dari berbagai era perjalanan karier bermusiknya, seperti “Bound 2”, “Ghost Town”, “Black Skinhead”, “Famous”, “Stronger”, “Niggas In Paris”, “All The Love”, dan masih banyak lagi.

Momen “Heartless” hingga Histeria “All of The Lights”

Namun, ada yang menarik saat Ye menampilkan “Heartless”, dia meminta seluruh penonton mengulang menyanyikan bagian chorus sebanyak delapan kali sampai terdengar kompak di telinganya.

Permainan laser dan lighting tampil mengagumkan pada lagu “All of The Lights” membuat histeria penonton makin larut dalam euforia. Kilatan cahaya yang berpendar menciptakan lanskap visual nan dramatis.

“Runaway” Menjadi Penutup Konser Ye di Jakarta


Konser berakhir dengan karya paling ikonik dalam diskografi Ye "Runaway". Lantunan piano yang sederhana menjadi gempita dengan gelegar kembang api yang menerangi stadion GBK.

Tak ada ucapan terima kasih atau momen yang menjelaskan arti konser malam tersebut bagi Ye. Tidak ada pula pernyataan besar yang menjanjikan karya baru setelah konser. Seolah sudah maklum dengan karakter sang idola, para penonton melangkah keluar stadion membawa pengalaman konser spektakular yang mungkin tidak akan terulang lagi tahun depan.