Pidato Prabowo di Sidang Kabinet 2 Tahun Pemerintahan: Bahas Kritik hingga Ring of Fire

  • Muhammad Ichsan

Presiden Prabowo Subianto baru saja membuka Sidang Kabinet Paripurna yang bertajuk “2 Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri” di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026), sehari setelah genap dua tahun pemerintahan. Sidang ini dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jajaran Kabinet Merah Putih, dan anggota Wantimpres. 


Source: DetikNews

Latar Sidang: Evaluasi Setelah Sidang Juli

Sidang ini menjadi lanjutan dari evaluasi kabinet yang sebelumnya dilakukan pada Juli 2026. Dalam rapat tersebut, Prabowo menggelar Sidang Kabinet Paripurna pertengahan tahun menjelang 17 Agustus, saat Presiden biasa menyampaikan capaian kerja tahunan. Sidang 21 Oktober digelar di halaman tengah Istana Negara dan disiarkan langsung lewat kanal YouTube Sekretariat Presiden, dengan Prabowo berbusana safari putih dan berkopiah. Berikut ini poin-poin pidatonya beserta penjelasannya.


  1. Dua Tahun yang Penuh Tantangan

Pada pembukaan pidato, Prabowo menyampaikan pesan, “Dua tahun telah kita lalui bersama.” Ia lalu menyebut berbagai tantangan, dari konflik geopolitik hingga persaingan ekonomi dan perdagangan antarnegara. Pada poin ini, pemerintah menyampaikan bahwa capaian dua tahun ini didapat dari kondisi dunia yang tidak stabil, sehingga hasil kerja yang diperoleh dari kondisi tekanan global yang sedang masif.


  1. Bangga, tetapi Tidak Sombong

Setelah itu, Prabowo juga menyatakan bahwa ia merasa bangga karena dapat memimpin pemerintahan yang menurut keyakinannya bekerja dengan hasil nyata. Ia menilai kinerja pemerintah selama dua tahun ini cukup membanggakan. Ia mengingatkan kabinet, “Kita tidak boleh sombong tapi kita tidak boleh rendah diri.” Artinya, ia ingin jajarannya menghargai capaian tanpa mudah berpuas diri. Klaim “hasil nyata” itu sendiri masih perlu diuji lewat data dan evaluasi independen.


Baca juga: Dari Bundaran HI hingga Beijing: Aksi Protes Lewat Spanduk di Ruang Publik Dunia



  1. Terima Kasih dan Kekompakan Kabinet

Tidak lupa juga, Presiden ke-8 RI tersebut menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh kabinet yang telah bekerja keras hingga saat ini, “Terima kasih dan penghargaan saya” kepada seluruh jajaran kabinet yang ia nilai telah bekerja sangat keras. Ia juga menekankan kemampuan bekerja sama sebagai penentu keberhasilan, yang ia sebut sebagai “pelajaran ribuan tahun manusia.” Pesan ini menegaskan bahwa ia menilai keberhasilan sebagai kerja tim, bukan prestasi individu.


  1. Membahas Soal Penyelundupan Pupuk

Prabowo juga mempertanyakan bagaimana sistem yang telah ada membiarkan terjadinya penyelundupan dan dipertahankan. Ia mencontohkan “Pupuk kita yang disubsidi diselundupkan.” Maksudnya, ia memberi sinyal bahwa kebocoran barang bersubsidi dan penyelundupan menjadi sasaran untuk segera dibenahi, karena pupuk bersubsidi seharusnya sampai ke petani, bukan keluar dari jalur distribusi.


  1. Menjawab Kritik “Kabinet Gemuk”

Pada pidato yang digelar siang hari tersebut, juga menanggapi kritik yang sering disampaikan bahwa Kabinet Merah Putih terlalu besar dan dinilai kurang efisien. Ia mengajak koalisi besar tersebut untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, lalu membandingkan Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk hampir 300 juta, dengan seluruh Eropa, yang benuanya berisikan 30 negara. Argumennya, negara sebesar Indonesia membutuhkan banyak tenaga untuk menangani kekayaan alam dan bencana. Bagi pengkritik, soal efisiensi dan beban anggaran tetap menjadi pertanyaan.


  1. Perang hingga Ring of Fire

Prabowo juga menggambarkan bagaimana situasi internasional yang penuh dengan ketidakpastian akibat perang dan persaingan kekuatan besar, sambil menegaskan bahwa negara-negara saling bergantung satu sama lain. Ia juga menyinggung perubahan cuaca dan posisi Indonesia di Cincin Api yang kerap memicu bencana. Maksudnya, pemerintah ingin menunjukkan bahwa tantangan eksternal dan alam ikut memengaruhi kinerja yang dicapai.


Ringkasan Poin Pidato 21 Oktober

  • Capaian dua tahun layak dibanggakan, tetapi tidak boleh membuat sombong.

  • Kekompakan kabinet menjadi kunci keberhasilan.

  • Penyelundupan dan kebocoran subsidi harus dibenahi.

  • Kabinet besar dibela dengan alasan skala negara.

  • Tantangan global dan bencana menjadi konteks kerja pemerintah.

Catatan Penutup

Pidato ini lebih banyak berisi apresiasi dan pembelaan atas capaian pemerintah. Seluruh klaim di atas adalah pernyataan Presiden, sehingga penilaian akhirnya tetap bergantung pada data dan evaluasi independen, termasuk survei kepuasan publik yang hasilnya dapat bervariasi.