Pengaruh Kekuatan Mimpi

Jepang adalah contoh mewujudkan mimpi jadi kenyataan, seperti timnas mereka di Piala Dunia.

254
0
Nino Star Editor

Saya tumbuh besar sebagai pembaca komik Jepang (manga) dan penonton anime (serial animasi Jepang). Kayaknya, enggak ada satu pun anak kecil di generasi saya yang enggak bangun pagi untuk maraton nonton kartun di televisi setiap hari Minggu. Bahkan, dulu saya bisa menangis kalau ketinggalan satu saja episode dari tayangan-tayangan favorit.

Magis memang, bagaimana ikatan antara pembaca atau penonton dengan karakter manga dan anime bisa tersimpul kencang. Rasanya, kita ikut terseret masuk ke dalam semesta fiksi yang dibuat oleh sang pengarang.

Salah satu bukti nyata dari pengaruh ikatan tersebut adalah Jepang pernah menetapkan sebuah tanggal hitam menjadi hari libur nasional karena salah satu karakter di serial One Piece diceritakan meninggal. Mayoritas penduduk Jepang terpukul sekali dengan kejadian tersebut, dan mereka kehilangan tenaga untuk bekerja. Sungguh luar biasa, bukan?

Anyway, sebenarnya alasan saya mengangkat topik ini adalah karena saya kagum melihat sepak terjang Timnas Jepang di Piala Dunia 2022 yang sedang digelar di Qatar. Jika dipikir-pikir, bisa jadi salah satu penyebab majunya prestasi sepak bola Jepang adalah karena cerita-cerita manga dan anime yang mereka produksi.

Mungkin banyak yang menganggap komik dan kartun hanyalah sebuah hiburan semata. Tapi jika kita tilik lebih dalam, ada banyak sekali doa dan mimpi yang tersisip di dalamnya.

Tahun 80-an, sepak bola Jepang belum banyak menoreh prestasi. Ibarat kata, bagi mereka saat itu mengikuti ajang piala dunia hanyalah sebatas mimpi.

Lalu, hadirlah karakter bernama Tsubasa Ozora lewat serial Captain Tsubasa, seorang pemain sepak bola muda fiktif asal Jepang yang hebat, yang kisahnya diikuti jutaan masyarakat Jepang. Dalam ceritanya, pada akhirnya Tsubasa berhasil membawa negaranya ikut, bahkan memenangi piala dunia dan mengalahkan negara-negara raksasa sepak bola.

Cerita tersebut mungkin terkesan seperti mimpi di siang bolong, tapi tahukah kalian apa yang terjadi? Satu negara mengamini mimpi tersebut. Apa yang mereka tonton pun kemudian berubah jadi doa, dan harapan kolektif itu melahirkan “Tsubasa-Tsubasa” kecil ke dunia nyata.

Tahun 1998, kurang lebih 15 tahun setelah Captain Tsubasa rilis, Jepang berhasil mengikuti Piala Dunia untuk pertama kalinya. Dewasa ini, Jepang telah menjadi negara di Asia yang sudah empat kali lolos hingga babak 16 besar Piala Dunia.

Lucunya kostum tim nasional Jepang tahun ini juga didesain oleh seorang kreator manga dan anime bernama Yusuke Nomura. Beliau merupakan pengarang dari Blue Lock (kamu bisa menonton serial anime ini lewat beberapa platform OTT), sebuah serial baru tentang sepak bola yang siap mengukir doa dan mimpi serta harapan Jepang lebih jauh lagi.

Rasanya, negara kita juga harus lebih banyak menuangkan mimpi melalui platform-platform kreatif agar impian-impian besar tersebut bisa kita amini bersama. Jadi, jangan terima kalau ada yang bilang, “Udah deh, jangan kebanyakan mimpi!”

Jawab saja pakai lirik lagu Nidji: “Mimpi…adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia.”

Mari bermimpi!

Nino.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *