Belajar dari Pengabdi Setan Jelang Rilis Musim Ketiganya: Horor Sesungguhnya Itu Bernama Ekonomi Keluarga!

  • M. Hikmal Yazid

Sejak kemunculannya di 2017, Pengabdi Setan dipuji karena membangkitkan kembali horor Indonesia melalui estetika kampung, atmosfer rumah tua, dan mitologi sekte. Namun, daya hantunya tidak terletak pada iblis atau hantu. Yang paling menakutkan dari film ini justru sesuatu yang jauh lebih konkret dan manusiawi kemiskinan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai satu-satunya sumber daya ekonomi keluarga. Di balik jumpscare dan ritual gaib, Pengabdi Setan memperlihatkan bentuk ekstraksi paling sunyi perempuan dikorbankan bukan karena kejahatan moral, tetapi karena patriarki yang lumpuh oleh tekanan ekonomi.

Film ini tidak merayakan “perempuan kuat.” Yang hadir adalah perempuan yang dipaksa kuat karena tidak ada pilihan lain, sementara seluruh keluarga menumpang hidup pada tubuhnya bahkan setelah tubuh itu berhenti bernapas.

Rumah yang Lapuk, Kapital yang Hilang

Krisis finansial bukan latar belakang film itu mesin naratifnya. Mawarni, mantan penyanyi dan penyedia nafkah utama keluarga, jatuh sakit selama tiga tahun. Penghasilannya menghilang, sementara Bapak tidak memiliki pekerjaan tetap. Dari sudut pandang materialis, ini adalah awal kehancuran patriarki tradisional laki-laki kehilangan kapasitas ekonominya untuk memimpin keluarga, sementara perempuan ironisnya tetap menjadi satu-satunya sumber ekonomi bahkan ketika tubuhnya tidak lagi produktif. Ketegangan finansial itu meledak dalam dialog pendek namun mematikan logika patriarki

“Dari mana, Pak? Uang sudah habis semua buat obatin Ibu.”

Ketidakmampuan Bapak untuk menjamin kelangsungan ekonomi menghasilkan keputusan ekstrem meninggalkan rumah demi mencari pinjaman. Di sinilah film secara ideologis mengumumkan sesuatu ketika struktur ekonomi gagal, tubuh perempuan akan dibayar sebagai kompensasi.

Ketika Tubuh Perempuan Berubah Fungsi

Penderitaan Mawarni adalah fase transisi. Sakitnya bukan sekadar tragedi biologis, tetapi restu material bagi sekte untuk mengambil alih tubuhnya. Adegan ranjang, bel, dan tatapan kosong menegaskan tubuhnya sebagai objek siap eksploitasi lemah, diam, pasif tetapi bernilai. Ironi paling kelam muncul setelah kematiannya. Tubuh Mawarni dibangkitkan sebagai hantu, mengintai anak-anaknya sendiri. Pasca kematian, ia bukan individu; ia adalah aset yang menjalankan fungsi organisasi menakut-nakuti, mengancam, dan pada akhirnya memanen tumbal. Horor film bekerja dengan logika ekonomi bahkan jasad perempuan tidak dibebaskan dari tuntutan produktivitas.

Saat itu terjadi, patriarki tidak lagi diwakili oleh figur laki-laki digantikan oleh ritual, kultus, dan sistem yang memastikan bahwa tubuh perempuan selalu menghasilkan nilai, bahkan melalui penderitaan.

Ritual Bukan Moral Ia Ekonomi Alternatif

Kilas-balik keputusan Mawarni bergabung dengan sekte membuat kritik materialis tak terbantahkan. Ritual tidak muncul sebagai penyimpangan moral, melainkan strategi bertahan hidup kelas bawah

  • mandul → masuk sekte → mendapatkan keturunan

  • karier meredup → kultus menjanjikan kembalinya pamor

  • krisis ekonomi → tubuh diserahkan demi peluang stabilitas

Di sini film menyingkap wajah kapitalisme ekstrem ketika pasar dan medis gagal menyediakan jalan keluar, ritual kematian menjadi institusi ekonomi yang menggantikan negara dan pasar. Dengan kata lain, film memperlihatkan bagaimana patriarki tetap berdiri ketika kegagalan ekonomi dialihkan ke pengorbanan tubuh perempuan.

Bahasa Sinema sebagai Bukti Eksploitasi

Kekuatan film ini bukan sekadar tema melainkan cara ia memvisualisasikannya.

  • Framing perempuan selalu ditempatkan di pusat penderitaan dalam komposisi gambar, seolah tubuhnya adalah gravitasi naratif.

  • Blocking perempuan diposisikan pasif (menunggu, tidur, bersembunyi), sementara laki-laki bergerak keluar rumah logika agen versus objek.

  • Close-up estetisasi rasa sakit Mawarni dan ketakutan Rini mengubah penderitaan menjadi tontonan yang dapat dikonsumsi.

  • Sound design jeritan Mawarni dan bunyi bel bukan sekadar efek horor; ia adalah liturgi ekonomi suara tuntutan produksi terhadap tubuh yang tidak lagi sanggup bekerja.

Estetika sinema di sini bukan hiasan ia adalah alat normalisasi. Penderitaan perempuan menjadi “indah”, dan karena itu “diterima”.

Siapa yang Diuntungkan?

Pengorbanan perempuan tidak menyelamatkan keluarga. Ia menguatkan sistem

  • kultus mendapatkan tumbal dan pengikut

  • patriarki mempertahankan struktur melalui tubuh perempuan, bukan melalui kapasitas laki-laki

  • perempuan hanya menjadi media  tidak pernah penerima manfaat

Sehingga Pengabdi Setan lebih jujur daripada film keluarga mana pun tidak ada kebahagiaan dari pengorbanan perempuan. Tidak ada pemulihan. Tidak ada hutang yang lunas.

Evolusi Trilogi  Inferensi Terarah

Walau berfikir ini berfokus pada film pertama, struktur naratif Pengabdi Setan 2 dan Pengabdi Setan 3 (berdasarkan informasi publik dan pola tematik) memberi indikasi bahwa eksploitasi tubuh perempuan mengalami eskalasi

  1. PS1  tubuh individu perempuan dikorbankan demi kelangsungan keluarga.

  2. PS2  reproduksi perempuan & keturunan sebagai komoditas dalam struktur yang lebih terorganisir.

  3. PS3  eksploitasi perempuan memasuki skala institusional/komunal hingga menjadi “industri ritual”.

Jika pola ini terbukti secara adegan, maka trilogi Pengabdi Setan pada dasarnya adalah kronik evolusi bagaimana patriarki mempertahankan dirinya melalui tubuh perempuan ketika ekonomi keluarga lumpuh total. Pengabdi Setan bukan film tentang “iblis yang merusak keluarga.” Ini film tentang keluarga miskin yang merusak tubuh perempuan untuk tetap hidup. Di hadapan krisis ekonomi, patriarki meminta perempuan untuk sakit, mati, lalu “bekerja” lebih keras setelah mati.  Kengerian sebenarnya bukan pada hantu di kamar, tetapi pada kenyataan pahit yang ditawarkan film di dalam keluarga yang tersandera ekonomi, cinta berubah menjadi kontrak, pengorbanan berubah menjadi mata uang, dan tubuh perempuan menjadi kapital terakhir yang bisa dijual.

Dalam lanskap horor Indonesia yang terus berkembang, semesta Pengabdi Setan tidak berhenti sebagai dua babak teror yang terpisah, melainkan bergerak menuju fase baru yang lebih genealogis. Setelah ekspansi ruang dan intensitas dalam Pengabdi Setan 2: Communion, kini arah naratifnya secara terbuka mengisyaratkan kelanjutan melalui proyek ketiga bertajuk Pengabdi Setan Origin yang dijadwalkan tayang pada 2027. Film ini, yang kembali berada di bawah kendali Joko Anwar dan diproduksi oleh Rapi Films, diproyeksikan tidak sekadar melanjutkan cerita, tetapi membongkar pondasi terdalam dari teror yang selama ini tampak sebagai konsekuensi, bukan sebab.

Pengabdi Setan 3 : ON Going!

Jika dua film sebelumnya memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan dieksploitasi dalam kondisi krisis di ruang domestik yang lapuk hingga ruang komunal yang anonim ada film ketiga ini berpotensi menggeser fokus menuju asal-usul mekanisme tersebut. Dengan kata lain, narasi tidak lagi bertanya “bagaimana keluarga dihancurkan oleh sekte,” tetapi “bagaimana sekte itu sendiri lahir sebagai jawaban atas kehancuran.” Pergeseran ini krusial, karena ia membuka kemungkinan bahwa praktik pengorbanan tubuh perempuan bukanlah penyimpangan tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang yang berakar pada tekanan ekonomi, kegagalan institusi, dan kebutuhan akan bentuk rasionalitas alternatif.

Dalam kerangka berfikir ini, kehadiran film ketiga tersebut justru mempertegas tesis bahwa horor dalam Pengabdi Setan tidak bekerja melalui kejutan semata, melainkan melalui pengulangan sistemik. Jika origin benar-benar mengungkap fase embrionik sekte bagaimana tubuh pertama dinegosiasikan, bagaimana pengorbanan pertama dibenarkan maka seluruh rangkaian cerita akan terbaca sebagai satu siklus utuh: dari kelahiran, ekspansi, hingga reproduksi kekerasan. Ini berarti eksploitasi tubuh perempuan bukan hanya berlangsung, tetapi dirancang, diwariskan, dan dinormalisasi sejak awal.

Namun, penting untuk tidak terjebak dalam asumsi bahwa pengungkapan asal-usul otomatis membawa kejelasan moral. Justru sebaliknya, origin berpotensi memperumit posisi korban dan pelaku. Jika Mawarni dalam film pertama tampil sebagai figur yang terjebak dalam keterpaksaan, maka film ketiga mungkin akan memperlihatkan bahwa figur serupa di masa lalu tidak hanya menjadi korban, tetapi juga agen awal yang dalam kondisi tertentu turut membentuk sistem itu sendiri. Di sinilah kengerian mencapai bentuk paling sunyi: ketika pengorbanan tidak lagi dipaksakan dari luar, melainkan lahir dari dalam sebagai pilihan yang tampak rasional.

Dengan demikian, rencana kehadiran Pengabdi Setan Origin tidak hanya menandai kelanjutan franchise, tetapi memperluas horizon pembacaan atas keseluruhan semesta cerita. Ia mengindikasikan bahwa teror dalam Pengabdi Setan tidak memiliki titik awal yang sederhana dan tidak pula menawarkan akhir yang benar-benar selesai. Yang ada hanyalah sistem yang terus mencari bentuk baru untuk bertahan dan dalam setiap bentuk itu, tubuh perempuan tetap menjadi medium utama tempat sistem tersebut bekerja, berulang, dan menguat.