Disenfranchised grief adalah duka yang tidak diakui secara sosial, sehingga kehilangan sahabat sering dianggap sepele dengan komentar seperti "kan cuma teman".
Persahabatan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup, sehingga kehilangan sahabat dapat menimbulkan rasa sedih yang sama nyatanya dengan kehilangan pasangan.
Membangun persahabatan dekat membutuhkan investasi waktu yang panjang. Menurut Jeffrey Hall, dibutuhkan lebih dari 200 jam kebersamaan untuk membentuk hubungan sahabat dekat.
Yang hilang bukan hanya sosok sahabat, tetapi juga versi diri yang tumbuh bersama hubungan tersebut, sehingga proses berduka sering kali terasa lebih rumit dan sulit dijelaskan.
Pernahkah kamu merasa kehilangan seorang sahabat justru terasa lebih menyakitkan dibanding putus cinta? Bagi sebagian orang, berakhirnya sebuah persahabatan dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam, bahkan memengaruhi keseharian mereka dalam waktu yang lama. Namun, karena hubungan tersebut tidak memiliki status formal seperti hubungan romantis atau hubungan keluarga, rasa kehilangan itu sering kali dianggap berlebihan atau tidak sepenting kehilangan lainnya.
Padahal, sahabat sering menjadi tempat berbagi cerita, sumber dukungan emosional, hingga orang yang menemani berbagai fase penting dalam kehidupan. Ketika hubungan tersebut berakhir, seseorang tidak hanya kehilangan sosok yang dekat, tetapi juga kehilangan ruang aman untuk menjadi dirinya sendiri. Tidak heran jika banyak orang merasa kehilangan sahabat merupakan salah satu pengalaman emosional yang paling sulit dijelaskan dan diproses.
Baca Juga: 5 Cara Gen Z Menghadapi Kerjaan Menumpuk Tanpa Burnout
Apa Itu Disenfranchised Grief?
Dalam psikologi, kondisi ketika seseorang merasakan kehilangan yang mendalam tetapi tidak mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar disebut disenfranchised grief. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar duka dan kehilangan, Kenneth J. Doka, melalui bukunya Disenfranchised Grief: Recognizing Hidden Sorrow yang terbit pada 1989. Menurut Doka, masyarakat memiliki aturan tidak tertulis mengenai jenis kehilangan yang dianggap layak untuk diratapi dan yang tidak.
Kehilangan pasangan, orang tua, atau anggota keluarga biasanya memperoleh simpati dan dukungan dari lingkungan sekitar. Sebaliknya, kehilangan seorang sahabat, mantan pasangan, atau hubungan lain yang tidak memiliki pengakuan formal sering kali dianggap tidak terlalu penting. Akibatnya, orang yang sedang berduka justru merasa kesedihannya tidak valid karena kerap mendengar komentar seperti, "Kan cuma teman," atau "Nanti juga punya teman baru."
Mengapa Kehilangan Sahabat Bisa Sangat Menyakitkan?
Persahabatan memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan untuk menghabiskan waktu bersama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas persahabatan berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis, kepuasan hidup, serta kesehatan mental seseorang. Hubungan pertemanan yang kuat bahkan dapat membantu seseorang mengatasi stres dan meningkatkan rasa bahagia.
Karena memiliki peran penting dalam kehidupan, kehilangan sahabat dapat menimbulkan rasa sedih yang sama nyatanya dengan kehilangan pasangan. Banyak orang kehilangan tempat bercerita, sosok yang memahami dirinya, dan seseorang yang selalu hadir dalam momen penting kehidupan. Tidak sedikit pula yang mengalami perasaan hampa karena perubahan besar dalam rutinitas dan hubungan sosial mereka.
Penelitian Associate Professor of Communication Studies di University of Kansas, Jeffrey Hall, yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships tahun 2018 juga menunjukkan bahwa persahabatan dekat membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk terbentuk. Berdasarkan penelitiannya, seseorang membutuhkan sekitar 50 jam kebersamaan untuk berubah dari sekadar kenalan menjadi teman biasa, sekitar 90 jam untuk menjadi teman, dan lebih dari 200 jam bersama sebelum seseorang dapat disebut sebagai sahabat dekat.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebuah persahabatan merupakan hasil dari investasi waktu, pengalaman, dan kedekatan emosional yang dibangun secara perlahan. Ketika hubungan yang terbentuk selama ratusan jam kebersamaan itu berakhir, rasa kehilangan yang muncul pun menjadi sangat nyata. Pada akhirnya, yang hilang bukan sekadar seorang teman, melainkan hubungan yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan seseorang.
Tidak Ada Ritual untuk Berduka karena Kehilangan Sahabat
Putus cinta biasanya memiliki "ritual" yang dipahami secara universal. Banyak orang menghibur diri dengan curhat kepada teman, bepergian, mengubah penampilan, atau mencoba membuka lembaran baru. Lingkungan sekitar juga cenderung memberikan ruang dan pengertian bagi seseorang yang sedang mengalami patah hati.
Namun, kehilangan sahabat sering kali tidak memiliki penanda yang jelas. Sebagian besar persahabatan berakhir secara perlahan, mulai dari komunikasi yang berkurang hingga akhirnya menjadi orang asing satu sama lain. Karena tidak ada momen perpisahan yang tegas, banyak orang terus memikirkan pertanyaan seperti, "Apa salahku?" atau "Mengapa hubungan ini berubah?" sehingga proses berduka menjadi lebih panjang dan rumit.
Tidak adanya pengakuan sosial terhadap kehilangan ini membuat banyak orang memilih memendam kesedihannya sendiri. Mereka merasa tidak berhak untuk bersedih terlalu lama karena hubungan yang berakhir hanyalah sebuah pertemanan. Padahal, perasaan kehilangan tersebut sama nyatanya dengan bentuk duka lainnya dan tetap membutuhkan waktu untuk diproses.
Kehilangan Versi Diri yang Hanya Ada Bersama Sahabat
Psikolog dan peneliti hubungan sosial Jeffrey Hall menyebut bahwa persahabatan memiliki kontribusi besar terhadap rasa memiliki (sense of belonging) dan kualitas hidup seseorang. Sahabat sering kali menjadi bagian dari identitas kita karena banyak pengalaman, kenangan, dan cerita yang dibangun bersama mereka. Ketika hubungan tersebut berakhir, sebagian dari identitas itu juga terasa ikut menghilang.
Mungkin ada sisi diri yang hanya muncul ketika bersama sahabat tertentu, seperti cara bercanda, kebiasaan berbagi cerita, atau impian yang pernah direncanakan bersama. Ada pula kenangan yang hanya dipahami oleh dua orang dan tidak dapat digantikan oleh hubungan lain. Itulah sebabnya kehilangan sahabat tidak hanya berarti kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan versi diri yang pernah tumbuh di dalam hubungan tersebut.
Perasaan inilah yang membuat berakhirnya sebuah persahabatan dapat terasa begitu menyakitkan dan sulit untuk dilepaskan. Seseorang mungkin terus bertanya-tanya apakah hubungan itu masih bisa diperbaiki atau mengapa kedekatan yang pernah ada kini menghilang begitu saja. Ketidakpastian tersebut sering kali membuat proses berduka menjadi lebih panjang dibanding yang diperkirakan.
Duka karena Kehilangan Sahabat Juga Layak Diakui
Pada akhirnya, rasa kehilangan akibat berakhirnya sebuah persahabatan merupakan emosi yang nyata dan valid. Tidak ada aturan yang menyatakan bahwa seseorang hanya boleh berduka karena kehilangan pasangan atau anggota keluarga. Setiap hubungan yang memiliki makna mendalam berpotensi meninggalkan luka ketika berakhir.
Karena itu, penting untuk memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan kesedihan tersebut tanpa merasa bersalah. Mengakui bahwa kehilangan sahabat memang menyakitkan dapat menjadi langkah awal untuk menerima dan memproses duka dengan lebih sehat. Terkadang, yang paling berat bukan hanya kehilangan orangnya, melainkan kehilangan bagian dari diri kita yang hanya pernah ada ketika bersama dia.
Reyvan