Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi dan hingga kini masih berstatus Level III (Siaga). Abu vulkanik dari erupsi tersebut juga terpantau berdampak ke sejumlah wilayah, mulai dari Lampung, Banten, hingga Jabodetabek.
Oppal Gengs, yang biasanya semangat jogging, gowes, atau olahraga di luar rumah, mungkin sekarang jadi mikir dua kali. Jadi, sebenarnya masih aman nggak sih olahraga di tengah kondisi menyebarnya abu vulkanik seperti ini?
Yuk, simak informasinya sampai habis!
Source: Pixabay/wal_172619
Baca juga: Stay Safe! Ini Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik Erupsi Gunung Krakatau
Ini Daerah yang Dilaporkan Terdampak Abu Vulkanik
Berdasarkan pemantauan BMKG pada 6 September 2026, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang teridentifikasi melalui analisis citra satelit. Sebarannya melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyebutkan bahwa abu vulkanik yang berada di ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, meliputi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Amankah Tetap Berolahraga?
Abu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikel halusnya bisa masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi pada mata, hidung, serta tenggorokan. Pada sebagian orang, paparan abu juga bisa menyebabkan batuk hingga kesulitan bernapas.
Karena itu, sebaiknya tunda dulu olahraga di luar ruangan jika abu vulkanik masih terlihat di udara atau menutupi lingkungan sekitar. Sebisa mungkin, kurangi paparan dan tetap berada di dalam ruangan saat kondisi belum memungkinkan untuk beraktivitas di luar.
Kalau biasanya punya jadwal jogging, bersepeda, atau olahraga outdoor lainnya, coba alihkan dulu ke aktivitas di dalam rumah. Menunda olahraga outdoor selama beberapa hari lebih baik daripada memaksakan diri berolahraga ketika kondisi udara belum aman.
Olahraga Bikin Lebih Banyak Partikel Masuk ke Saluran Napas
Saat berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga kita otomatis bernapas lebih cepat dan dalam. Akibatnya, jumlah udara yang masuk ke paru-paru juga meningkat, termasuk partikel yang mungkin terdapat di dalam udara tersebut.
Ketika olahraga dilakukan dengan intensitas tinggi, kita juga cenderung lebih sering bernapas melalui mulut. Padahal, hidung memiliki fungsi untuk menyaring sebagian partikel dari udara yang masuk. Karena itu, semakin tinggi intensitas dan semakin lama berolahraga di lingkungan yang tercemar, semakin banyak pula partikel yang berpotensi terhirup.
Maka dari itu, sebaiknya hindari dulu olahraga di luar ruangan ketika abu vulkanik masih terdeteksi di udara atau kondisi lingkungan belum memungkinkan.
Kalau Tetap Mau Olahraga, Gimana?
Source: Pixabay/River_Izki
Menyebarnya abu vulkanik bukan berarti kamu harus berhenti bergerak seharian. Kalau kondisi udara di dalam ruangan lebih aman dan bersih, olahraga tetap bisa dilakukan dengan memilih aktivitas indoor, misalnya:
Stretching
Yoga
Indoor workout
Jalan atau bersepeda menggunakan alat olahraga di dalam ruangan.
Kapan Boleh Kembali Olahraga di Luar Ruangan?
Tidak ada waktu pasti berapa hari setelah erupsi seseorang harus menunggu sebelum kembali olahraga di luar ruangan. Yang terpenting adalah melihat kondisi lingkungan dan mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang.
Olahraga outdoor bisa mulai dipertimbangkan jika:
Abu vulkanik sudah tidak tampak beterbangan di udara atau menutupi lingkungan sekitar.
Kondisi udara sudah membaik dan tidak ada imbauan untuk tetap berada di dalam ruangan.
Pihak berwenang menyatakan kondisi sudah aman untuk kembali beraktivitas di luar ruangan.
Saat mulai berolahraga, tidak muncul keluhan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi pada mata dan tenggorokan.
Jadi, Oppal Gengs, olahraga tetap penting, tapi selama abu vulkanik masih terdeteksi dan kondisi udara belum aman, lebih baik pilih olahraga indoor terlebih dahulu.
Setelah kondisi dinyatakan aman, kamu bisa kembali beraktivitas outdoor. Yang penting, tetap aktif dengan cara yang aman dan sesuai kondisi lingkungan, ya!
Khopida Rahma