Di tengah carut-marutnya ekonomi yang sedang buruk dan persaingan kerja yang semakin sulit, kita harus mencari setiap jalan untuk bisa menghasilkan uang. Hal ini dikaitkan dengan Gen Z yang tumbuh di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil ini.
Dari riset yang dilakukan oleh GoodStats, sebanyak 74 persen lebih memilih untuk bekerja di luar negeri karena harapan dan peluang yang lebih besar dalam memperoleh penghasilan yang lebih tinggi, peluang karier yang lebih menjanjikan, dan kualitas hidup yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan di dalam negeri.
Angka ini berasal dari responden Generasi Z sebanyak 74% dengan kisaran umur 16-29 tahun yang lebih tertarik untuk bekerja di luar negeri. Sebanyak 4% dari responden bahkan sudah mengajukan lamaran ke luar negeri, dan hanya 20% saja yang memberikan pengakuan bahwa tidak tertarik untuk bekerja di luar negeri.
Temuan ini menguatkan bahwa minat kerja di luar negeri tidak terlalu dipengaruhi oleh jenis pekerjaan yang akan dijalankan. Bagi mereka, pendapatan yang lebih besar dan kesempatan untuk berkembang menjadi faktor utama daripada stastus atau bidang pekerjaan.
Fenomena ini juga bisa dilihat melalui media sosial. Tidak sedikit netizen dari kalangan Gen Z yang mengaku bersiap untuk menjalani pekerjaan fisik seperti memotong rumput, memetik buah, bekerja di gudang, hingga menjadi petugas kebersihan (housekeeping) di luar negeri.
Bagi para Gen Z, pekerjaan tersebut sangat menarik bagi mereka karena jumlah upah yang bisa mereka dapatkan dari pekerjaan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan pekerjaan serupa yang ada di Indonesia.
Baca juga: Masjid Istiqlal Resmi Masuk Ekosistem Bursa Efek Indonesia
Fenomena ini memicu beragam tanggapan dan diskusi di masyarakat. Di satu sisi, banyak pihak yang mendukung keberanian generasi muda dalam mengambil peluang kerja di luar negeri. Namun, di sisi lain, kondisi ini turut menyoroti tantangan terkait ketersediaan lapangan kerja serta tingkat upah di dalam negeri yang dirasa belum memadai bagi mereka.
Cerita serupa juga didapatkan dari Rhenald Louwos(22) yang bekerja di Hong Kong sebagai programmer. Ia memutuskan untuk pergi bekerja di Hong Kong karena pendapatan yang didapatkan sejumlah HKD 10 ribu, setara dengan Rp 20 juta per bulan di Indonesia. Di samping itu, pekerjaan yang sama di Indonesia hanya mendapatkan upah sekitar Rp5,3–7,5 juta saja.
Menurutnya, “Di negara sendiri, beban kerja tinggi, tapi gaji rendah. Kalau gaji di Hong Kong setara dengan beban kerja, badan remuk tapi bahagia,” ungkap Rhenald yang dikutip dari website gardaindonesia.id.
Kisah lainnya juga datang dari Ilma Fadhilah (22) yang memutuskan untuk bekerja di Taiwan setelah menyelesaikan studinya di bangku Sekolah Menengah Atas(SMA). Ilma bekerja sebagai seorang perawat lansia. Gaji yang dia dapatkan di Tawian berkisar pada NTD 20.000 atau setara dengan Rp 9 juta per bulan. Sedangkan gaji perawat lansia di Indonesia hanya berkisar Rp 2–3 juta saja.
Tidak hanya gaji pokok saja yang dia dapatkan, melainkan ia juga mendapatkan uang makan dan tempat tinggal, cuti tahunan, sampai tunjangan kesehatan dari pemerintah Taiwan. Dari gaji yang didapatkan Ilmah, ia bisa menyisihkan sebanyak Rp 3 juta untuk ia tabung sendiri.
Kisah-kisah ini dari generasi Z yang mengadu nasib mereka ke luar negeri menjadi sorotan dan dipresentasikan dalam pengamatan media sosial X bertajuk “Mengungkap Preferensi Karier Gen Z” oleh perusahaan riset digital Jangkara Data Lab (Jangkara) bersama Jakpat. Data media sosial X diambil dari periode 1 April hingga 31 Mei 2024.
Melalui data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (K2MI/BP2MI), tercatat sebanyak 65.813 Pekerja Migran Indonesia (PMI) diberangkatkan ke luar negeri pada kuartal I 2026. Selain itu, terdapat lebih dari 257.000 hingga 320.000 lowongan kerja resmi di luar negeri yang terbuka di berbagai kawasan.
Data ini menjadi penguat bahwa solusi terbaik yang bisa dilakukan sekarang ini adalah mencari pekerjaan di luar negeri apabila kesempatan bekerja di dalam negeri dinilai sulit.
Muhammad Ichsan