Masjid Istiqlal Resmi Masuk Ekosistem Bursa Efek Indonesia

  • Naufal Mamduh

Kabar unik datang dari salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal jadi masjid pertama yang masuk ke ekosistem Bursa Efek Indonesia lewat pengelolaan wakaf tunai secara produktif. 

Langkah ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, saat berbicara kepada wartawan di Jakarta, Minggu (9/8/2026). "Pertama kali masjid yang masuk Bursa Efek adalah Masjid Istiqlal," ujar Nasaruddin

Ia menjelaskan bahwa dana wakaf yang terkumpul gak lagi ditempatkan dalam skema deposito, melainkan dikelola sebagai wakaf produktif yang terhubung langsung dengan pasar modal lewat kerja sama dengan Bursa Efek, sehingga tercipta pemberdayaan ekonomi bagi umat. Sebagian keuntungan dari pengelolaan investasi ini nantinya bakal dikembalikan lagi ke umat lewat berbagai program yang dijalankan Masjid Istiqlal.

Wakaf Tunai Kini Dikelola Lewat Bursa Efek

Nasaruddin menjelaskan bahwa kerja sama Masjid Istiqlal dengan Bursa Efek Indonesia diarahkan buat mendorong pemberdayaan ekonomi umat secara lebih luas. Ia menegaskan bahwa istilah yang dipakai bukan deposito, melainkan wakaf produktif, di mana sebagian keuntungan dari saham yang dikelola akan dikembalikan kepada umat lewat berbagai program Masjid Istiqlal. Skema ini jadi terobosan baru dalam pengelolaan dana wakaf di Indonesia, mengingat selama ini wakaf tunai lebih sering dikelola lewat instrumen yang sifatnya konvensional dan kurang terhubung langsung dengan pasar modal. Dengan model baru ini, dana umat yang terkumpul punya potensi berkembang lebih optimal tanpa kehilangan fungsi sosialnya.

Baca juga: Bersihkan 54.000 Masjid di 12 Provinsi, WIPOL Ajak Anak Muda "Spill" Kebaikan Buat Marbot!

Istiqlal Global Fund Jadi Pusat Pemberdayaan UMKM

Salah satu wujud konkret dari pengembangan wakaf produktif ini adalah Istiqlal Global Fund, yang berfungsi sebagai pusat kegiatan bisnis sekaligus wadah pelatihan bagi pengusaha muslim, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Lewat Istiqlal Global Fund, para pelaku UMKM diharapkan bisa mendapat akses pelatihan dan pendampingan usaha yang lebih terstruktur, sehingga wakaf gak cuma berhenti sebagai instrumen sosial dan keagamaan, tapi juga bertransformasi jadi instrumen ekonomi yang menghasilkan manfaat berkelanjutan buat pemberdayaan umat secara nyata. Konsep business center semacam ini juga membuka peluang kolaborasi antar pelaku usaha muslim, sehingga jaringan bisnis yang terbentuk bisa saling menguatkan satu sama lain dalam jangka panjang.

Jadi Satu-satunya di Dunia, Peminatnya Membeludak

Dalam kesempatan lain, Nasaruddin menyebut keterlibatan Masjid Istiqlal dalam ekosistem bursa efek ini kemungkinan besar jadi yang pertama di dunia, dan responsnya dari masyarakat ternyata luar biasa positif. Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Doa Bersama dan Zikir Kebangsaan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, yang digelar akhir pekan lalu. Antusiasme masyarakat terhadap skema wakaf produktif ini menunjukkan bahwa banyak umat yang tertarik berkontribusi lewat cara yang lebih modern dan transparan, sekaligus tetap sesuai dengan prinsip syariah.

Didukung Pemprov DKI dan Berbagai Kerja Sama Internasional

Nasaruddin turut mengapresiasi dukungan Pemprov DKI Jakarta terhadap pengembangan berbagai fasilitas di Masjid Istiqlal, yang menurutnya sudah banyak membantu proses pengembangan kawasan masjid selama ini. Selain dukungan dari pemerintah daerah, pengembangan Istiqlal juga didukung berbagai kerja sama lain, baik dari dalam maupun luar negeri, yang turut memperkuat posisi Masjid Istiqlal sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus pemberdayaan ekonomi umat berskala internasional.

Sejarah Baru Pengelolaan Wakaf di Indonesia

Langkah Masjid Istiqlal masuk ke ekosistem Bursa Efek Indonesia lewat unit usaha Istiqlal Global Fund ini resmi mencatatkan sejarah baru dalam pengelolaan wakaf di Indonesia. Kerja sama ini dijalankan khusus untuk investasi syariah, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi umat lewat skema yang lebih modern dan akuntabel. Ke depan, model pengelolaan wakaf produktif seperti ini berpotensi jadi contoh bagi masjid-masjid besar lain di Indonesia yang ingin mengoptimalkan potensi dana umat secara lebih produktif.

Baca juga: Setelah 40 Ditutup, Masjid Al-Aqsa Dibuka Kembali dan Dipadati Jemaah Palestina

Oppal Gengs, langkah Masjid Istiqlal masuk ke ekosistem Bursa Efek Indonesia ini jadi bukti kalau pengelolaan wakaf bisa terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan. Dari sekadar dana sosial, wakaf tunai kini bertransformasi jadi instrumen ekonomi yang bisa mendukung pemberdayaan UMKM sekaligus memperkuat ekonomi umat secara berkelanjutan. Semoga langkah ini bisa jadi inspirasi buat pengelolaan wakaf di tempat lain, biar manfaatnya makin dirasakan luas oleh masyarakat.