Mengusung tema ‘A Decade of Love Language’, festival yang berlangsung dari tanggal 6 sampai 15 Agustus ini benar-benar gila-gilaan kerennya. Ada total 86 film dari 21 negara berbeda yang terdiri dari 24 film panjang dan 62 film pendek diputar serentak di 11 venue kece yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Nggak heran kalau event ini jadi salah satu yang paling ditunggu skena sinema tanah air.
Baca Juga: Wastra Nusantara Makin Hype! Begini Cara Gen Z Sulap Kain Tenun Jadi OOTD Paling Skena
Ruang Aman Buat Kita Semua Berbagi Perspektif

Selama sepuluh tahun perjalanannya, festival ini nggak pernah gagal jadi safe space buat publik ketemu, tukar pikiran, dan ngebahas isu-isu sosial, hak asasi manusia, sampai kemanusiaan lewat medium audio-visual yang dekat banget sama keseharian kita. Mulai dari sineas, aktivis, akademisi, sampai komunitas tumpah ruah jadi satu dalam ruang yang ngebangun empati tanpa sekat.
Semangat inklusivitas ini juga dirasain banget sama aktris sekaligus aktivis keren, Hannah Al Rashid, yang tahun ini didapuk jadi Duta Festival. Selama festival berlangsung, Hannah aktif banget nyimak berbagai cerita dan ngobrol langsung sama para partisipan program Cinema Without Borders dari berbagai negara Asia Tenggara.
"Menjadi bagian dari 100% Manusia Film Festival tahun ini memberi saya banyak kesempatan untuk menyimak cerita dan bertemu orang-orang dengan pengalaman yang beragam. Dari menonton Devi hingga bertemu dengan para peserta Cinema Without Borders, saya kembali diingatkan bahwa film dan ruang seperti ini dapat mempertemukan kita dengan perspektif yang mungkin sebelumnya tidak kita kenal. Sebagai Duta Festival tahun ini, saya merasa senang bisa menjadi bagian dari ruang yang mengajak kita untuk berhenti memberi label dan mulai melihat pengalaman manusia dengan lebih terbuka," ujar Hannah.
Ditutup Sempurna Lewat Film 10s Across the Border
Malam puncak penutupan kemarin makin pecah dengan pemutaran film dokumenter 10s Across the Border garapan sutradara Chan Sze-Wei. Film produksi Filipina-Singapura berdurasi 99 menit ini menyoroti perjalanan Sun, Teddy, dan Xyza dalam membangun komunitas Ballroom di Asia Tenggara sebagai tempat bernaung sekaligus ruang aman buat ngelawan diskriminasi dan stigma sosial.
Nggak main-main, film ini sebelumnya juga malang melintang di berbagai festival internasional bergengsi kayak Singapore International Film Festival 2025, Movies That Matter 2025, sampai dapet nominasi Best Documentary di Asia Pacific Screen Awards 2025. Chan Sze-Wei sendiri merasa sangat terhormat karyanya dipilih sebagai penutup dan berharap penonton Indonesia bisa menemukan koneksi kuat serta membawa percakapan tersebut ke level yang lebih jauh.
Eksplorasi Isu Kemanusiaan Lewat Beragam Genre Film
Baca juga: 100% Manusia Film Festival 2026: Rayakan Satu Dekade Lewat 86 Film Gratis!
Sepanjang penyelenggaraannya, festival tahun ini berhasil menyita perhatian publik berkat variasi program film yang super kaya genre. Mulai dari segmen film panjang kayak 100% Die Hard dan 100% Femme Fatale, sampai jajaran film pendek favorit kayak 100% Love Language, program debut 100% KISS (Keep It Short and Sassy), 100% STMJ (Shorts Term Memory of Joy), dan 100% SEAblings, semuanya sukses bawain cerita kemanusiaan dengan gaya penceritaan yang segar.

Kepala Program Film 100% Manusia Film Festival 2026, Meninaputri Wismurti, ngejelasin kalau keberagaman program ini sengaja dirancang biar pesan-pesannya makin relate sama penonton. Selama satu dekade perjalanan festival, pihaknya konsisten mencari dan menayangkan film-film dunia yang jarang diputar di Indonesia untuk mengangkat isu berat ke dalam gambar bergerak dengan pendekatan genre yang bervariasi, mulai dari drama, animasi, horor, komedi, sampai thriller. Ketika penonton bisa menemukan pengalaman yang dekat dengan dirinya di layar lebar atau melihat sesuatu dari sudut pandang lain, di situlah film mulai membuka ruang percakapan yang nyata.
Program Non-Film yang Bikin Makin Intim dan Inklusif
Nggak cuma puas nonton film di bioskop, para pengunjung juga dimanjain sama segudang program non-film yang nggak kalah seru. Mulai dari 100% Exhibition, 100% Cinergi, 100% DIY Sign Language, 100% A Walk to Understand, 100% Outloud, 100% In Harmony, 100% All You Can Read, sampai 100% Health Screening, semuanya sukses bikin interaksi antarwarga makin hidup.
Rain Cuaca selaku Kepala Acara Non-Film, nambahkan kalau inisiatif ini sengaja dibuat buat ngebangun pengalaman kolektif yang ramah buat siapa saja. Lewat program non-film, masyarakat dapet kesempatan emas buat ketemu, berdialog, belajar, dan saling memahami dengan cara yang jauh lebih dekat dan menyenangkan.
Edisi kesepuluh ini juga makin spesial berkat kolaborasi perdana bersama Movies That Matter lewat program Cinema Without Borders di Asia Tenggara secara luring. Sebanyak 14 pengelola festival film dari Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, Myanmar, Filipina, dan Vietnam kumpul di Jakarta buat sharing ilmu soal manajemen festival, pendanaan, promosi, sampai strategi membangun audiens.
Puncak kolaborasi tersebut ditutup lewat acara 100% Meet the Festivals di Erasmus Huis, di mana publik bisa langsung kenalan dan berjejaring sama para penggiat sinema regional tersebut. Menutup dekade pertamanya, 100% Manusia Film Festival sukses ngebuktiin kalau seni dan sinema bakal selalu jadi rumah yang aman dan terbuka buat kita semua melihat serta mendengarkan perspektif kemanusiaan yang beragam.
Bayu Dewantara