Melirik Fenomena Girl Math yang Ramai di TikTok, dan Mengapa Tren Ini Sebaiknya Tak Menjadi Sebuah Stereotipe Misoginis

Let the girls do the math!

36
Girl math

Kalau kamu termasuk salah satu orang yang sering “meluncur” di TikTok (okay, who doesn’t?), kamu pasti menyadari bahwa ada satu tren yang belakangan ini sedang ramai di platform tersebut: Girl math.

Yup, fenomena girl math saat ini sedang viral, dan TikTok dipenuhi dengan video-video pendek di mana para perempuan muda membahas mengenai kebiasaan mereka dalam mengeluarkan uang alias money habits mereka yang…yah, kadang cukup membuat kita bertanya-tanya.

Di balik ramainya video mengenai fenomena tersebut di media sosial, sebenarnya apa itu girl math, dan apakah betul tren ini bisa jadi masalah bagi finansial para perempuan muda? Keep scrolling!

Apa itu girl math?

Melansir dari Glamour, fenomena ini mulai muncul sejak sebuah radio di New Zealand membuat segmen, di mana para pendengar mereka boleh membuat panggilan telepon ke acara tersebut dan menjelaskan alasan mereka menghabiskan uang untuk berbelanja, tentunya sambil menggunakan term girl math” sambil menjelaskan alasan mereka.

@fvhzm Using #girlmath to make tickets to The Eras Tour #basicallyfree ♬ original sound – FVHZM

Dalam beberapa kesempatan, sejumlah pendengar sempat berbagi mengenai alasan mereka membeli tas ternama seharga Rp9 juta, mengapa mereka membeli hairdryer seharga lebih dari Rp6 juta (you know the brand, y’all), atau bahkan mengapa beberapa orang rela mengeluarkan uang hingga Rp51 juta hanya demi menonton konser Taylor Swift. Ow-kay.

Acara ini kemudian viral di TikTok, ditonton jutaan kali oleh segelintir orang di berbagai belahan dunia, and boom…fenomena girl math pun ramai.

Oke, seperti apa penggunaan kata tersebut?

Kamu mungkin sudah pernah menonton salah satu video soal girl math, tapi just in case kamu belum pernah menontonnya (really, where have you been?) beginilah kira-kira girl math:

Semisal, kamu membeli sesuatu di bawah Rp50.000,-, itu bukan sebuah masalah besar karena nominal tersebut kecil, jadi pengeluaran tersebut bisa saja dianggap gratis. Girl math.

Atau, ketika kamu menambah keranjang belanjamu di sebuah marketplace demi mendapat free shipping. Girl math!

Oke contoh lainnya, semisal ada teman yang baru saja membayar utangnya sebesar Rp300.000,-. Asyik, berarti uangnya bisa dipakai buat belanja hal lain dong, beli apa ya? Girl math.

Satu contoh terakhir. Membeli dress seharga Rp1 juta sebetulnya tidak mahal, karena kan, sama saja dengan membeli satu atasan dan satu bawahan. Girl math! Dan, kalau kamu saling bertukar dress itu dengan dress milik temanmu, berarti sama saja dengan kamu membeli dress baru secara gratis. Girl math!

Apakah kita perlu berhati-hati dengan adanya tren ini?

Beberapa orang justru menganggap bahwa tren ini sebetulnya lucu, dan ramai dibicarakan karena mengundang tawa.

Mengutip dari The Washington Post, menurut Dan Egan, Vice President of Behavioral Finance and Investing dari Betterment, sebuah firma penasihat investasi digital, kita tak perlu merasa panik dengan adanya tren ini.

Girl math

Menurut Dan, ini hanyalah masalah sudut pandang. Oh, dan jelas sekali, meski namanya menyematkan kata “girl” atau perempuan, tren ini tak ada hubungannya sama sekali dengan gender tertentu.

Girl math sejujurnya merepresentasikan “perhitungan mental” yang dilakukan semua orang di dunia, termasuk laki-laki. Girl math adalah cara seseorang memilah-milah dan membuat keputusan keuangan. Girl math merupakan cara seseorang membenarkan pengeluaran yang berlebihan.

“Perhitungan atau akuntansi mental adalah salah satu aspek kehidupan manusia,” ujar Dan. “Hal ini tak bisa dikategorikan baik atau buruk. Kita mengkalkulasikan uang dalam sebuah ‘perhitungan’ yang hanya ada di dalam kepala kita. Dan pemikiran mental tersebut mengarahkan kita untuk bertindak, apakah uang tersebut akan dibelanjakan atau ditabung.”

Dan juga mengatakan bahwa kita tak perlu khawatir dengan pengeluaran-pengeluaran kecil yang, dalam jangka panjang, toh tak banyak berpengaruh terhadap konsekuensi signifikan dalam finansial kita.

Girl math

Semisal, banyak yang bilang bahwa kamu sebaiknya tak perlu sering membeli es kopi susu seharga kurang dari Rp20.000,-, karena uangnya lebih baik ditabung untuk membeli rumah.

Oke, semisal kamu membeli kopi susu sebanyak 15 kali dalam 1 bulan, dikali 12 bulan berarti totalnya 180 gelas. Dikalikan dengan, semisal, Rp20.000,- untuk segelas kopi susu, berarti totalnya kurang lebih Rp3.600.000,- dalam 1 tahun. Apakah nominal tersebut bisa kamu gunakan untuk membayar DP sebuah rumah di kota? Yeah, you know the answer.

“Menikmati beberapa hal di mana kita bisa berkata, ‘Tak masalah kok, kalau saya mengeluarkan uang untuk hal ini,’ di mana kita tak perlu merasa cemas atau panik karenanya, adalah sebuah hal yang luar biasa,” ujar Dan. “Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri hanya karena kamu membutuhkan segelas kopi setiap harinya atau sedikit pengeluaran di sana-sini yang nominalnya tak seberapa,” lanjutnya,

You don’t have to sweat over the small stuffs. Alih-alih, gunakan perhitungan mentalmu untuk membuat keputusan finansial yang penting. Semisal, fokuslah dalam membuat keputusan mengenai asuransi kesehatanmu, atau caramu mendapatkan penghasilan tambahan lewat side job untuk mengisi pundi-pundi emergency fund. Right? Right.

Meski begitu, ada yang perlu kamu perhatikan dari tren ini

Girl math
Girl math

Memang, tak masalah kalau kamu membuat pengeluaran-pengeluaran kecil yang tak berarti. Tapi kalau kamu melakukannya setiap hari, tanpa mencatat berapa jumlahnya dan untuk apa saja pengeluaran tersebut sehingga kamu sendiri tak sadar seberapa besar bujet yang kamu keluarkan untuk “jajan-jajan kecil” tersebut, ini artinya kamu punya manajemen keuangan yang buruk.

Dibanding mengeluarkan uang untuk pengeluaran-pengeluaran kecil yang tak berarti, lebih baik kamu membuat bujet untuk tiga hal terbesar dalam finansialmu. Pertama, membayar utang dan cicilanmu (cicilan ponsel dan laptopmu sudah selesai, belum?), kedua adalah menyiapkan tabungan darurat, dan yang terakhir adalah mempersiapkan masa depan seperti tabungan pensiun atau melakukan investasi seperti membeli saham.

Kamu boleh melakukan girl math kapan pun kamu mau, tapi ingat, semua harus tetap ada bujetnya ya!

Girl math lebih mudah dimengerti oleh para perempuan

Ada banyak yang menganggap girl math sebagai sebuah bentuk stereotipe patriarki dimana perempuan dianggap kurang memahami cara kerja uang, atau tidak dapat dipercaya dalam menggunakan uang atau dalam mengatur finansial.

Konyol, kan? Padahal kalau dilihat kembali, ada banyak sekali konsultan finansial perempuan yang ternama di luar sana. Juga, ada banyak sekali perempuan di luar sana yang pandai mengatur pengeluaran mereka. So why are girls seen as the source of the problem?

@mixedupmoney #girlmath ♬ original sound – Alyssa Davies

Kalau kamu perhatikan, di TikTok ada banyak perempuan yang juga berbagi video mengenai pasangan lelaki mereka yang gagal memahami pemahaman girl math tersebut. Sejujurnya, ini bukan sebuah masalah besar, karena para lelaki toh, tak perlu benar-benar memahami pemikiran para perempuan seutuhnya. Girl math is not for them, it’s for the girls.

Girl math adalah sebuah problem ketika dianggap sebagai sebuah stereotipe misoginis

Meskipun video “girl math” dimaksudkan untuk mentertawai cara unik para perempuan dalam mengeluarkan uang atau berbelanja mereka, tentu saja video tersebut dapat memperkuat stereotipe misoginis jika ditonton tanpa konteks yang tepat.

Girl math bisa saja terlihat sebagai pandangan remeh bagi para perempuan yang ingin mengeluarkan uang mereka untuk membeli kebutuhan kosmetik seperti lipstick atau foundation – sesuatu yang mayoritas lelaki tidak butuhkan saat mereka harus menghadiri rapat di kantor dengan tampilan rapi. Atau ketika perempuan perlu membeli dress baru yang harganya tentu lebih mahal dibanding sehelai kaus t-shirt lelaki.

Di saat perempuan dipandang boros atau tak pandai mengelola keuangan, para lelaki justru bebas membicarakan cara mereka membeli sepatu yang harganya juga tak murah, para lelaki boleh mengeluarkan kocek besar untuk merenovasi motor atau sepeda atau mobil mereka, dan para lelaki tak akan disalahkan ketika membeli segelas kopi susu seharga Rp50 ribu.

Mengapa para perempuan membutuhkan validasi ketika mereka perlu menekan tombol check out, sedangkan para lelaki tidak? Mengapa para lelaki tidak membutuhkan “boy math” untuk membenarkan cara belanja mereka? Mengapa para lelaki tidak perlu merasa bersalah untuk sesekali memanjakan diri mereka dengan melakukan hobi atau membeli barang yang mereka suka, tapi perempuan dianggap bodoh karenanya?

Jangan sampai girl math menjadi mekanisme untuk membuat para perempuan merasa bersalah ketika mereka membeli barang atau membayar jasa yang harganya lumayan mahal untuk menyenangkan diri mereka sendiri.

Tentu saja, bukan berarti para perempuan kemudian boleh membelanjakan seluruh uangnya untuk apa pun yang mereka inginkan – ingat, lakukan pengeluaran sesuai kemampuan. Selama kamu dapat membayar tagihan bulananmu serta sudah menyisihkan seporsi uangmu untuk ditabung, gunakanlah sisa uangmu untuk bersenang-senang.

Pada intinya, girl math hanyalah cara bagi para perempuan untuk membicarakan bagaimana mereka membelanjakan uang mereka. Let the girls do the math!

Alvin
WRITTEN BY

Alvin

Lifestyle and Entertainment Editor at Oppal, who mainly obsesses over all things pop culture, pizza, and boba drinks with equal enthusiasm. Covering everything from celebrities profile to the best TV shows.