Gunung Anak Krakatau Erupsi Beruntun, Diduga Berkaitan dengan Fenomena Dentuman Misterius di Bandung

  • Muhammad Ichsan

Aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan secara signifikan pada awal September 2026. Gunung berapi ini tercatat mengalami erupsi secara terus-menerus sejak hari Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pagi, dengan setidaknya 10 kali letusan yang terjadi dalam rentang waktu tersebut.


Source photo: Viva

Rangkaian Erupsi Krakatau yang Terus Terjadi

Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia milik Kementerian ESDM, terjadi tiga erupsi pertama pada Jumat pagi secara beruntun pada pukul 04.11, 04.19, dan 04.28 WIB, tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum masing-masing 33 mm, 60 mm, dan 70 mm, meski ketiganya tidak teramati secara visual. Setelah itu, terjadi erupsi susulan pada pukul 05.46 WIB dengan kolom abu yang teramati mencapai sekitar 300 meter di atas puncak, atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut, bergerak ke arah barat dan barat laut.


Pengamat gunung api PVMBG, Rioboniek Situmorang, dalam laporannya menyebut kondisi terkini gunung tersebut. "Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau erupsi terus-menerus, berlangsung sejak tanggal 04 September 2026 pukul 23:07 WIB hingga saat laporan ini dibuat," tulisnya. Laporan ini berdasarkan pemantauan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) yang bahkan telah menyampaikan bahwa abu vulkanik sempat menyentuh ketinggian sekitar 15 kilometer atau 50.000 kaki di atas permukaan laut pada dini hari tanggal 5 September.


Bukan Kejadian yang Terjadi Secara Tiba-Tiba

Terjadinya aktivitas vulkanik Anak Krakatau ini sebenarnya tidak secara mendadak. Sejumlah indikator aktivitas magma sudah terpantau sejak Juni 2026, sebelum akhirnya status gunung ini dinaikkan menjadi Level III atau setara dengan level siaga pada 2 Juli 2026. Sejak saat itu, PVMBG menerapkan radius aman tiga kilometer dari kawah aktif, melarang masyarakat, wisatawan, maupun nelayan melakukan aktivitas di zona tersebut.


Ini dilakukan sebagai antisipasi keselamatan warga dan untuk menghindari bahaya muntahan material pijar, awan panas, hingga gelombang laut yang terjadi akibat aktivitas vulkanik.

Dentuman Keras di Langit Gegerkan Warga Bandung

Bersamaan dengan kejadian meletusnya Anak Krakatau, warga yang berada di sejumlah wilayah Jawa Barat digegerkan oleh fenomena suara dentuman misterius di langit-langit yang terdengar pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Suara tersebut dilaporkan terdengar di wilayah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Sumedang, Purwakarta, hingga Cianjur, mulai sekitar pukul 23.30 WIB hingga lewat tengah malam, bahkan ada yang melaporkan masih terdengar hingga pukul 02.00 WIB.


Salah satu warganet menceritakan pengalamannya. "Saya tinggal di Bandung Timur, terbangun sekitar jam 1-an. Terdengar suara, kaca di kamar mandi juga bergetar. Sampai sekarang jadi enggak bisa tidur, was-was," tulis pemilik akun bernama Nisa. Dalam beberapa video yang beredar di media sosial, suara misterius tersebut digambarkan sebagai suara pukulan ke tembok atau suara bass dari sound system, yang membuat kaca dan pintu rumah warga di sekitar ikut bergetar.


Baca juga: Mengenang Dua Pahlawan Karhutla Kalteng yang Gugur di Garis Terdepan


Diduga Terkait Dengan Anak Krakatau, Namun Belum Dipastikan

Suara dentuman keras yang terjadi di sebagian daerah di wilayah Jawa Barat ini banyak dikaitkan dengan aktivitas Anak Krakatau oleh orang-orang di media sosial yang terjadi hampir bersamaan. Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa dentuman semacam ini secara umum bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari gempa tektonik, aktivitas longsoran, fenomena skyquake atau suara dari langit, aktivitas petir, hingga aktivitas gunung berapi.


Secara prinsipnya, erupsi gunung api memang bisa menghasilkan energi suara dan gelombang tekanan atmosfer, termasuk memancarkan gelombang infrasonik yang bisa merambat hingga sangat jauh. Namun, apakah energi dari erupsi Anak Krakatau benar-benar cukup kuat untuk menghasilkan suara dentuman yang cukup kuat dan terdengar dengan jelas hingga ke daerah Bandung? Hal ini masih memerlukan data pengamatan lebih lanjut dari lembaga berwenang sebelum bisa dipastikan.


Imbauan Bagi Masyarakat 

Di tengah situasi genting ini, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas asalnya dan belum terverifikasi terkait penyebab dentuman tersebut. BMKG dan pihak berwenang lainnya disebut masih terus melakukan peninjauan terkait situasi yang terjadi sekaligus melakukan kajian lebih dalam untuk memastikan sumber pasti suara misterius tersebut.


Masyarakat yang berada di pesisir sekitar Selat Sunda juga diminta untuk tetap mewaspadai potensi bahaya dari aktivitas Anak Krakatau yang masih terus berlangsung, sembari terus mengikuti perkembangan berita dan informasi resmi PVMBG, BMKG, maupun instansi terkait lainnya guna mendapatkan perkembangan situasi yang akurat dan terpercaya.