Riset mencatat 81,1 persen Gen Z Indonesia pernah curhat ke AI.
Alasan utamanya klise tapi masuk akal, misalnya tidak menghakimi, selalu ada, dan bikin merasa aman.
Psikiater mewanti-wanti bahaya self-diagnosis dari hasil ngobrol sama chatbot.
Ketergantungan ini pelan-pelan bikin remaja makin menjauh dari manusia sungguhan.
Oke, mari kita akui bahwa generasi sekarang lebih gampang cerita ke layar ketimbang ke orang di sebelahnya. Bukan karena manusia tiba-tiba jadi menyebalkan secara masif, tapi karena chatbot punya satu keunggulan yang tidak bisa ditandingi tongkrongan mana pun.
Ya betul, chatbot AI tidak akan pernah lelah meladeni ocehanmu atau diam-diam nge-screenshot curhatanmu buat bahan gosip di grup WA sebelah.
Fenomena tersebut nyata dan bahkan ada riset beserta data dan pakar yang membuktikannya. Nah, berikut 5 fakta soal generasi yang lebih memilih curhat ke AI daripada manusia. Yuk, intip apa saja Oppal Gengs!
1. Delapan dari Sepuluh Gen Z Indonesia Sudah “Selingkuh Emosional” ke AI
Kalau kamu mikir curhat ke AI itu masih hal minoritas yang cuma dilakukan segelintir orang aneh, angkanya bakal bikin kamu mikir ulang. Survei IDN Research Institute terhadap 183 responden Gen Z dan Milenial pada Januari-April 2026 menemukan lebih dari 70 persen responden pernah curhat kepada AI, dengan angka yang lebih tinggi pada Gen Z yakni mencapai 81,1 persen dibandingkan Milenial sebesar 63,6 persen.
Artinya, kalau kamu lagi nongkrong berlima sama teman Gen Z, kemungkinan besar empat di antaranya pernah “selingkuh emosional” ke chatbot tanpa sepengetahuan lingkaran pertemanannya. Hal ini sudah jadi kebiasaan mainstream yang dianggap normal, persis kayak dulu orang nulis diary, cuma sekarang diary-nya bisa bales chat dan sok-sokan empati.
Baca Juga: Dikira Cuma Doomscrolling, Gen Z Justru Jadi Generasi Paling Rajin Baca Buku
2. AI Menang karena Manusia Terlalu Ribet buat Diajak Curhat
Alasannya pun ternyata bukan karena AI-nya keren, tapi soal manusia di sekitar yang gagal jadi ruang aman. Riset yang sama mencatat 43,7 persen responden merasa lingkungan sekitarnya tidak menyediakan ruang aman untuk bercerita, dan dari kelompok itu 88 persen memilih AI sebagai alternatif tempat mencurahkan pikiran dan perasaan. Alasan paling banyak dipilih: AI selalu tersedia (73,3 persen), tidak menghakimi (68,9 persen), dan menawarkan privasi (54,8 persen).
Yang lebih bikin merinding: 74,1 persen responden mengaku percakapan dengan AI pernah memengaruhi keputusan hidup yang mereka ambil. Jadi bukan cuma tempat curhat kosong-kosongan, tapi juga jadi semacam “penasihat hidup”, padahal penasihatmu itu cuma program yang dilatih buat bikin kamu betah ngobrol lebih lama, bukan buat bikin kamu lebih baik.
3. Indonesia Nomor Dua Sedunia
Di balik drama curhat receh ini, ada industri yang tumbuh subur menikmati kesepianmu. Pasar roleplay chatbot AI diproyeksikan tumbuh dari 500 juta dolar AS pada 2025 menjadi 1,9 miliar dolar AS pada 2031.
Data Semrush menunjukkan Indonesia berada di posisi kedua dunia dalam jumlah kunjungan ke Character.AI dengan kontribusi 6,68 persen atau sekitar 13,01 juta kunjungan, di bawah Amerika Serikat dan melampaui Brasil, India, serta Meksiko, dengan 95,42 persen pengguna Indonesia mengakses lewat perangkat mobile. Jadi sementara kamu curhat gratis, ada perusahaan yang mengubah kesepianmu jadi valuasi miliaran dolar.
4. Psikiater UI: “Bukan Terapis, Itu Cuma Nebak-Nebak”
Sayangnya, urusan curhat ke AI ini merembet ke ranah yang lebih serius: orang mulai pakai chatbot buat “mendiagnosis” diri sendiri. Dilansir dari Detik, Psikiater FKUI-RSCM, dr Kristiana Siste, menyebut banyak Gen Z dan Gen Alpha bertanya ke AI soal kepribadian sampai dugaan gangguan mental, padahal AI tidak dirancang untuk menegakkan diagnosis klinis.
Ia mengingatkan bahwa hasil “diagnosis” dari chatbot kerap keliru, berlebihan, atau lepas konteks, sehingga tidak boleh dijadikan dasar penanganan medis, apalagi kalau setelah itu orangnya lanjut self-treatment tanpa konsultasi profesional.
Ia juga menyoroti bahwa ketergantungan berlebih pada chatbot bisa bikin anak muda makin menarik diri secara sosial karena merasa lebih dipahami oleh AI ketimbang manusia. Singkatnya, chatbot itu asisten skrining kasar, bukan psikolog bersertifikat, sekalipun jawabannya sok yakin dan rapi diformat pakai poin-poin.
5. Makin Nyaman Sama AI, Makin Jauh dari Manusia Beneran
Alat yang katanya bikin remaja merasa “didengar” justru pelan-pelan mengasingkan mereka dari orang-orang yang bisa benar-benar mendengar. Sejumlah riset soal pola penggunaan AI companion pada remaja mencatat ada pengguna usia belasan tahun yang menghabiskan waktu berjam-jam nonstop mengobrol dengan bot tiap harinya, sampai jadwal tidur berantakan dan performa sekolah ikut menurun.
Sebagian dari mereka mulai berhenti membalas pesan teman sungguhan demi memprioritaskan obrolan dengan bot, bahkan sadar kebiasaan ini tidak sehat tapi merasa tidak sanggup berhenti. Ada pula kasus-kasus ekstrem yang jadi pengingat keras, ketika seorang remaja membangun keterikatan emosional yang sangat dalam dengan chatbot selama berbulan-bulan, hingga berujung tragedi yang menghancurkan keluarganya. Dunia riil memang ribet dan penuh penolakan, tapi justru dari situlah manusia belajar jadi manusia, bukan dari validasi tanpa henti yang diprogram biar kamu betah membuka aplikasi lebih lama.
Jadi, Kita Beneran Kesepian?
Semakin canggih teknologi, manusia merasa semakin kesepian. Bukan karena jumlah orang di sekitar kita berkurang, melainkan karena makin sedikit ruang yang benar-benar membuat kita merasa didengar tanpa dihakimi.
Di tengah kekosongan itu, AI hadir sebagai pendengar yang selalu tersedia, cepat, sabar, dan tidak pernah lelah. Namun, kemudahan itu juga menyimpan paradoks. Pasalnya, teknologi tersebut bisa meredakan rasa sepi sesaat, tanpa benar-benar menyelesaikan akar penyebabnya.
Curhat ke AI bukan sesuatu yang salah dan tidak perlu buru-buru dihakimi. Namun, kalau chatbot sudah menjadi satu-satunya tempat yang terasa aman sementara hubungan dengan manusia perlahan ditinggalkan, mungkin persoalannya bukan lagi soal teknologi, melainkan tentang bagaimana kita membangun kembali relasi yang nyata.
Secanggih apa pun algoritmanya, AI bisa menenangkan percakapan, tetapi tidak bisa menggantikan kehadiran seseorang yang benar-benar ada di samping kita saat kita membutuhkannya.
Boy Nugroho