Penyebab Kebakaran Hutan Kalimantan: Mengapa Sering Terjadi?

  • Cynthia Paramitha

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bukan hanya disebabkan musim kemarau. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas manusia, perubahan penggunaan lahan, degradasi gambut, dan kondisi iklim saling berkaitan dalam membuat Kalimantan rentan terbakar.

Menurut penelitian yang diterbitkan di Global Environmental Change melalui ScienceDirect, sekitar 68–71 persen sumber api yang diteliti pada lanskap gambut Kalimantan berasal dari kawasan non-hutan. Sementara itu, sekitar 17–19 persen berasal dari konsesi kelapa sawit.

Baca Juga: Update Kebakaran Hari Ini: 5 Wilayah dengan Karhutla Terparah di Indonesia

Credit: https://www.kehutanan.go.id/


Illegal Logging hingga Pembukaan Lahan


Illegal logging atau pembalakan liar menjadi salah satu persoalan yang dapat memperparah degradasi hutan. Menurut penelitian di ScienceDirect, pembalakan ilegal di Kalimantan berkaitan dengan persoalan tata kelola, ekonomi, dan perubahan penggunaan lahan. Aktivitas tersebut dapat mengurangi tutupan hutan dan membuat lanskap mengalami degradasi.


Credit: https://www.kehutanan.go.id/


Meski demikian, illegal logging tidak bisa disebut sebagai satu-satunya penyebab kebakaran. Penelitian lain di ScienceDirect menemukan bahwa hubungan antara intensitas logging dan frekuensi kebakaran cukup kompleks. Karena itu, pembalakan lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan kerentanan hutan terhadap kebakaran.


Sementara itu, pembukaan lahan dengan cara membakar merupakan sumber api yang lebih langsung. Menurut penelitian Global Environmental Change, penggunaan api untuk membersihkan lahan pertanian dan perkebunan menjadi salah satu sumber penyalaan kebakaran di lanskap Kalimantan


Gambut Mengering, Api Makin Sulit Dipadamkan


Kondisi gambut juga membuat kebakaran Kalimantan semakin sulit dikendalikan. Menurut penelitian Frontiers in Forests and Global Change, sekitar 45.000 km² lahan gambut berada di Kalimantan. Drainase, deforestasi, perubahan tutupan lahan, dan aktivitas pembakaran membuat kawasan tersebut semakin rentan terhadap kebakaran.


Gambut yang kehilangan air menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Api bahkan dapat menjalar melalui lapisan organik di bawah permukaan sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.


Baca Juga: Asap Kebakaran Hutan di Kalimantan Berdampak Sampai ke Malaysia, dan Titiknya Masih Terus Meluas


El Niño Memperparah Kebakaran


El Niño bukan penyebab yang secara langsung menyalakan api, tetapi dapat memperbesar risiko kebakaran. Penelitian di Frontiers menemukan hubungan antara kondisi El Niño, berkurangnya curah hujan, meningkatnya suhu, serta peningkatan frekuensi dan luas kebakaran gambut di Kalimantan.


Ketika lahan sudah terdegradasi, gambut mengering, dan terdapat sumber api dari aktivitas manusia, musim kering panjang membuat api lebih mudah menyebar.


Jadi, mengapa Kalimantan sering kebakaran hutan? Jawabannya bukan satu faktor. Pembalakan dan perubahan penggunaan lahan dapat memperburuk kondisi hutan, pembukaan lahan dapat menjadi sumber api, gambut yang dikeringkan menjadi bahan bakar, sementara El Niño memperbesar kondisi kering.


Karena itu, pencegahan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Perlindungan hutan, pengawasan pembalakan ilegal, pengendalian pembukaan lahan, pemulihan tata air gambut, dan pencegahan penggunaan api menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran di Kalimantan.